27. KELENTURAN HATI

DALAM PEMERINTAHAN Allah atas kehidupan individu yang penting adalah kecerdasan seseorang mengerti kehendak Allah dan kelenturan hatinya yang tidak terbatas untuk mengikutinya. Kesediaan untuk melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Allah itulah ekspresi kehidupan iman Abraham yang harus diteladani. Jadi, kalau seseorang mengaku anak Abraham, maka ia harus memiliki kelenturan hati untuk melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Dalam hal ini kebenaran seseorang bukan karena perbuatan, maksudnya bukan karena menuruti torat yang dipandang oleh Yahudi sebagai sejajar dengan kehendak Allah. Tetapi kebenaran seseorang oleh karena iman yaitu penurutan terhadap kehendak Allah.

Adalah salah kalau seseorang beranggapan bahwa oleh karena dibenarkan bukan karena perbuatan tetapi karena iman, maka perbuatan tidak lagi menjadi fokus perhatian. Orang yang beranggapan demikian berpikir kalau seseorang memperhatikan perbuatannya berarti tidak memercayai anugerah Tuhan dan menganggapnya sebagai merusak prinsip sola gracia (Ingg. only by grace). Mereka begitu khawatir akan terjadi tindakan atau praktik merusak prinsip dan doktrin bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik tetapi karena iman, sampai-sampai usaha untuk berbuat baik mereka curigai sebagai tindakan melawan anugerah. Kesalahan ini membuat banyak orang Kristen tidak berusaha berlatih untuk mendidik moralnya secara baik. Ditambah lagi keyakinan bahwa Allah menentukan orang yang pasti selamat, maka mereka tidak belajar untuk berbuat baik. Ini adalah orang-orang yang salah. Perbuatan baik memang tidak menyelamatkan tetapi iman berarti memercayai Tuhan Yesus. Memercayai Tuhan Yesus berarti melakukan apa yang Dia lakukan. Dalam hal ini orang percaya tidak terikat dengan hukum torat atau hukum mana pun.

Kalau orang percaya tidak berada di bawah hukum torat atau hukum mana pun, bukan berarti boleh hidup sesuka hatinya sendiri. Orang percaya harus hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Ini berarti orang percaya harus lebih baik dari orang baik. Pertama, orang percaya harus memiliki moral yang baik. Kedua, orang percaya harus memiliki kecerdasan untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Memiliki moral yang baik artinya kejujuran dan lain sebagainya. Moral baik tidaklah cukup sebab perbuatan baik hanyalah bahan, sedangkan isinya adalah kecerdasan roh yaitu kepekaan terhadap apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Misalnya kalau seseorang hanya memiliki kemurahan hati atau suka memberi, maka bisa jadi kesukaan memberi itu hanya untuk kesenangan hatinya dan bisa juga mendatangkan pujian atau kekaguman orang terhadap dirinya. Tetapi kalau segala sesuatu yang kita lakukan karena perintah Tuhan, maka tidak ada atau kurang usaha untuk memperoleh keuntungan diri sendiri dalam bentuk apa pun. Dalam hal ini Tuhan tidak bisa memerintah orang yang memiliki kualitas moral yang buruk, sebab kualitas moral yang baik saja belum tentu bisa diperintah oleh Tuhan, apalagi yang buruk.

Abraham adalah sosok manusia yang memiliki kelenturan yang tinggi untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah, tetapi Abraham belum mampu mengerti kehendak Allah dalam seluruh aspek hidupnya. Abraham hanya mengerti beberapa perintah Tuhan dan dengan kerelaan ia menurutinya tanpa berbantah sama sekali. Abraham belum memiliki kecerdasan roh seperti umat Perjanjian Baru yang standarnya adalah Tuhan Yesus sendiri, yang dalam segala hal bisa mengerti kehendak Bapa. Itulah sebabnya orang percaya harus mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurn.1 Kecerdasan roh ini sama dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus.2 Pikiran dan perasaan dalam teks aslinya adalah phroneo yang juga bisa berarti cara berpikir (Ingg. mindset). Dengan cara berpikir seperti Tuhan ini seorang percaya dapat bertindak selalu seirama dan seiring dengan Tuhan.

1) Roma 12:2 ; 2) Filipi 2:5-7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.