27 Januari 2015: Persekutuan Dengan Bapa

Pada dasarnya “datang kepada Bapa” dalam Yohanes 14:6 menunjukkan sebuah persekutuan dengan Bapa. Bapa adalah satu-satunya Allah yang benar, sumber segala berkat dan kuasa. Dia adalah Roh yang Mahakudus dan Mahamulia yang tidak pernah akan dapat dilihat dalam keberadaan-Nya yang utuh sampai selamanya. Dalam Dia terdapat misteri yang tidak terduga yang tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya oleh siapa pun sampai selamanya. Dari Bapa keluar Sang Anak Tunggal yang diutus turun ke bumi yang diberi nama Yesus Kristus. Yesus Kristuslah yang memperkenalkan kepada manusia siapa Bapa, sejauh yang diperkenan untuk dapat dikenal. Tuhan Yesus juga menjadi jalan dimana manusia dapat menemukan Bapa dan memiliki persekutuan dengan Bapa. Ini sebenarnya inti anugerah yang disediakan bagi umat pilihan yang diperjuangkan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti bahwa inti keselamatan adalah “datang kepada Bapa” dalam pengertian yang benar. Mereka hanya cukup puas beragama Kristen. Betapa merosotnya kalau jalan keselamatan atau anugerah “datang kepada Bapa” dipahami sebagai agama dengan atribut-atributnya. Atribut agama pada umumnya adalah seremonial, hukum dan dominasi atau peran rohaniwan yang sama dengan tokoh agama. Itulah sebabnya dengan tegas harus dikatakan bahwa kekristenan bukan agama tetapi jalan hidup; bagaimana menjalani jalan hidup yang dijalani oleh Yesus Kristus agar layak menjadi anak Allah dan hidup dalam persekutuan dengan Bapa.

Dengan demikian “datang kepada Bapa” bukanlah perjalanan yang mudah dan singkat, tetapi perjalanan yang panjang dan berat. Pertaruhannya sangat mahal yaitu harus meninggalkan segala sesuatu.1 Inilah yang sebenarnya disebut sebagai menyangkal diri. Menyangkal diri adalah kesediaan menjalani hidup tidak seperti orang pada umumnya. Model hidup seperti ini tidak dikenal oleh filosofi hidup manusia pada umumnya. Ini berarti sebuah model hidup yang tidak wajar. Model hidup yang tidak wajar inilah yang dijalani oleh Tuhan Yesus dan ditolak oleh dunia. Seandainya mereka mengerti dan menerima model hidup yang Tuhan Yesus ajarkan maka mereka tidak akan menyalibkan Tuhan Yesus.2 Orang-orang Yahudi, khususnya penduduk Yerusalem menyalibkan Tuhan Yesus sebab mereka tidak bisa menerima model hidup yang Tuhan tawarkan. Mereka hanya menginginkan kemerdekaan dari penjajahan Romawi tetapi Tuhan menawarkan kemerdekaan dari dosa atau kemelesetan agar bisa berperilaku seperti Tuhan Yesus yaitu melakukan kehendak Bapa. Orang-orang Yahudi tidak berani memercayai apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.3 Mereka hanya memikirkan perkara-perkara dunia hari ini. Orang-orang seperti ini tidak akan “sampai kepada Bapa”.

Kehidupan Tuhan Yesus di bumi dimulai dengan mengosongkan diri dan menyamakan diri-Nya dengan manusia dalam segala hal. Ia tidak menggunakan seluruh wewenang, kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Ia meninggalkan segala kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa. Hal yang sama juga harus kita lakukan. Menjadi anak manusia yang hidup di zaman anugerah dan mengerti jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan Yesus, bahwa Ia adalah jalannya untuk “datang kepada Bapa”, kita harus mengenakan model hidup-Nya. Kalau Tuhan Yesus berkata “Akulah jalan” berarti kita harus mengenakan gaya atau model hidup-Nya. Tanpa mengenakan model hidup-Nya, seseorang tidak akan sampai kepada Bapa. Kalau datang kepada Bapa hanya dipahami sebagai beragama Kristen maka tidak merasa perlu berjuang memiliki model hidup seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kesalahan ini telah mengakibatkan banyak orang Kristen gagal menemukan dan mengalami keselamatan.

1) Lukas 14:33 2) 1Korintus 2:6-8 3) 1Korintus 2:9

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.