27. Fleksibilitas Dan Dinamisitas Kebenaran

ORANG YANG TIDAK mencuri bukan berarti hatinya adalah hati yang tidak suka mencuri. Orang yang tidak berzina bukan berarti memiliki hati yang tidak suka berzina. Seorang anak yang melakukan suatu perbuatan yang menunjukkan hormatnya kepada orang tua bukan berarti sungguh-sungguh memilki hati yang menghormati orang tua. Hal-hal ini bisa terjadi sebab ketika seseorang berbuat baik dan menghindari perbuatan salah, ia memiliki seribu satu motivasi. Bisa saja karena faktor-faktor tertentu yang mendesak seseorang berbuat baik. Seperti misalnya seseorang tidak mencuri atau tidak berzina karena takut dihukum. Seorang anak melakukan suatu perbuatan yang mengesankan ia menghormati orang tua, padahal pada dasarnya ia berbuat demikian karena mau memperoleh sesuatu dari orang tuanya. Seharusnya perbuatan baik dilakukan karena didorong oleh motivasi hati yang benar. Motivasi itu telah permanen berkuasa atas dirinya yaitu di dalam hati nuraninya. Hati nurani yang telah terbangun atau terbentuk sesuai dengan kebenaran Tuhan yang murni dapat menjadi hati nurani seperti Tuhan. Di sini barulah bisa dikatakan bahwa roh (neshamah) manusia adalah pelita Tuhan.

Hati nurani ini dibangun secara bertahap dalam kurun waktu yang pasti panjang yaitu melalui proses kehidupan setiap hari. Untuk ini seorang anak Tuhan harus memiliki perjuangan yang konkret untuk membentuk hati nuraninya. Misalnya kalau seseorang mau memiliki hati nurani yang lemah lembut, tidak cukup membaca buku atau mendengar khotbah mengenai kerendahan hati. Memang konsep mengenai kerendahan hati harus ditemukan dari Injil, tetapi setelah itu dalam kehidupan setiap hari harus belajar dari Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran. Bapa memakai segala peristiwa untuk membawa orang percaya kepada “jiwa rendah hati” seperti yang dikehendaki-Nya, yang juga ada pada diri Tuhan Yesus.

Dalam banyak agama etika dan standar moral diajarkan secara sistimatis dengan berbagai contoh-contoh yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh mereka. Inilah yang sama dengan mengajarkan hati nurani dengan sistim. Para pengikut agama diajar memiliki moral seperti tokohnya. Sehingga ukuran moral etika mereka kaku, tidak memiliki fleksibilitas dan dinamisitas, sukar diterapkan di situasi tertentu yang sangat berbeda dengan zaman dimana ajaran moral itu diajarkan. Padahal keadaan zaman dimana sang tokoh hidup sangat berbeda dengan zaman ini. Harus jujur diakui, sulit mengimplementasikan ajaran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut untuk zaman ini.

Berbeda dengan mereka, di dalam kekristenan terdapat proses panjang. Dari mendengar Firman Tuhan dalam bentuk logos (pengertian secara nalar) kemudian melalui pengalaman hidup menjadi rhema (logos yang diterjemahkan dalam situasi konkret oleh Roh Kudus). Roh Kudus berbicara tiada henti menunjukkan bagaimana seseorang memiliki sikap hati yang benar seperti Tuhan Yesus. Misalnya hal kerendahan hati. Tuhan Yesus tidak mengajarkan sistimnya, tetapi pengertiannya. Itulah sebabnya dalam kekristenan tidak ada hukum atau peraturan semacam syariat (dilarang ini dilarang itu; jangan begini jangan begitu). Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran agar orang percaya yang memahaminya sehingga dapat memiliki kecerdasan roh. Kebenaran itulah yang memerdekakan,1 maksudnya adalah dengan kebenaran itu seseorang mengerti apa yang dikehendaki oleh Bapa untuk dilakukan sehingga tidak terikat dengan keinginan pribadi. Dengan demikian Tuhan mengajarkan ukuran moral yang bertumpu pada Tuhan sendiri. Hal ini membuat kekristenan memiliki fleksibilitas dan dinamisitas yang sangat tinggi. Di zaman manapun kebenaran atau etika yang dikehendaki oleh Tuhan bisa dikenakan secara konkret.

1)Yohanes 8:31-32

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.