26. SIKAP MEMULIAKAN TUHAN

SIKAP MEMERCAYAI pemeliharaan Allah Bapa adalah sikap memuliakan Allah. Memuliakan Tuhan sejatinya tidak cukup dengan kata-kata. Sejatinya, sikap hati yang benar di hadapan Tuhan, itulah sikap memuliakan Tuhan. Dengan kepercayaannya kepada Allah sebagai Bapa yang pasti menaungi dengan sempurna, berarti seseorang menilai dan memandang Bapa sebagai pribadi yang agung dan bertanggung jawab. Sesungguhnya inilah sikap meninggikan dan memuliakan Allah yang benar. Kalau seseorang digeluti dengan perasaan takut dan cemas, berarti ia memandang Bapa pribadi yang tidak bertanggung jawab dan tidak peduli kepada anak-anak-Nya, ini adalah sikap tidak meninggikan dan memuliakan Allah. Orang yang dicekam dengan perasaan takut dan cemas menghadapi hidup dengan segala persoalannya adalah orang yang tidak percaya. Mereka bukan saja tidak memuliakan Allah, tetapi juga menghina pribadi-Nya. Jadi, ketika Tuhan membawa orang percaya kepada keadaan yang sulit, situasi yang bahaya dan terancam oleh sesuatu hal, maka sesungguhnya di saat itulah ia diberi kesempatan untuk dapat memuliakan Tuhan secara konkrit. Dalam hal ini, bukan musik dan syair lagu, tetapi sikap hati yang memainkan irama apakah kita memuliakan Tuhan atau melecehkan-Nya. Oleh sebab itu hendaknya seseorang tidak merasa sudah memuliakan Tuhan hanya karena bisa bernyanyi nyanyian rohani, berbahasa roh dan mengikuti liturgi gereja. Nyanyian hidup orang percaya haruslah sikap hati yang setiap saat memercayai Allah.

Dalam salah satu pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus, Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, yaitu ketika Ia dibujuk untuk menjatuhkan diri dari bubungan (atap) bait Allah.1 Bujukan itu dimaksudkan agar Tuhan Yesus meragukan kasih dan pemeliharaan Allah Bapa. Dengan bujukan itu Tuhan Yesus dibujuk untuk mempertanyakan: “Benarkah Bapa melindungi diri-Nya?” Sikap ini sebagai sikap mencobai Tuhan Allah. Kalau Tuhan Yesus menuruti bujukan Iblis, berarti Tuhan Yesus meragukan kasih dan pemeliharaan Bapa. Dalam hal ini mencobai Allah berarti menghina atau memandang rendah pribadi Allah yang Agung. Ini berarti sebuah sikap yang tidak menghormati Allah, yang sama dengan tidak memuliakan Allah. Tuhan Yesus tegas berkata kepada Iblis: “Jangan mencobai Tuhan Allah-Mu”. Bahkan di kayu salib, ketika Ia merasa ditinggalkan oleh Allah Bapa-Nya, ia tetap memercayai Bapa dengan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa.2 Ternyata memercayai pribadi Bapa adalah pelajaran terakhir dan puncak yang dialami oleh Tuhan Yesus. Hal ini jelas menunjukkan betapa pentingnya memercayai pribadi Allah Bapa.

Jadi kalau suatu saat, kita ada dalam keadaan “seakan-akan” Tuhan meninggalkan kita, kita harus tetap menaruh percaya kepada Tuhan. Terkait dengan hal ini kita dapat mengerti betapa hebat orang percaya pada abad awal kekristenan muncul. Mereka dianiaya selama ratusan tahun dengan penderitaan yang luar biasa dan Tuhan seakan-akan tidak memedulikan keadaan mereka. Seakan-akan Tuhan tidak berdaya menolong mereka. Nama Tuhan Yesus dihina, dilecehkan dan diinjak-injak. Dikesankan Tuhan Yesus ditundukkan dan dikalahkan oleh dewa Hermes, Zeus dan berbagai dewa pada zaman kekaisaran Roma. Kekuatan Roma seakan-akan jauh lebih hebat dari kekuatan Tuhan sendiri. Orang Kristen dipenjara, disiksa dengan berbagai siksaan, menjadi umpan binatang buas, digantung, dipancung, dimasukkan belanga atau panci atau penggorengan panas dan lain sebagainya, tetapi mereka tetap menaruh percaya kepada Tuhan Yesus. Inilah yang menjadi kesaksian bagi orang-orang kafir, dan akhirnya Roma mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini tidak lepas dari kegigihan orang percaya dalam memercayai Allahnya dan menampilkan diri sebagai anak-anak Allah yang sah (Yun. huios).

1) Matius 4:5-7; 2) Markus 15:34-37

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.