26. Dua Jalur Yang Harus Dipenuhi

TIDAK DAPAT DIBANTAH bahwa di tengah-tengah jemaat gereja dan para pendeta, dapat dijumpai banyak orang Kristen yang merasa sudah memiliki Tuhan Yesus tetapi tidak memiliki pengajaran-Nya atau tidak memahami secara memadai apa yang diajarkan-Nya. Mereka sudah merasa sudah menjadi orang Kristen yang baik atau orang Kristen standar. Mereka merasa bisa memiliki Tuhan Yesus dan keselamatan tanpa memahami pengajaran-Nya. Apakah seseorang bisa diselamatkan hanya mengenal nama Yesus tetapi tidak memahami apa yang diajarkan? Tentu tidak. Sebenarnya yang menyelamatkan orang percaya apakah Tuhan Yesus atau pengajaran-Nya? Kalau dijawab, Tuhan Yesus, tetapi mengapa Alkitab menulis bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan?1 Hal ini sangat penting untuk dipahami, bahwa Injil -yang di dalamnya karya keselamatan Tuhan Yesus diberitakan dan ajaran-Nya dicatat- merupakan jalan keselamatan satu-satunya bagi umat manusia. Pribadi Tuhan Yesus tidak dapat dilepaskan dari pengajaran-Nya. Injil bukan saja berita mengenai pribadi Tuhan Yesus, tetapi juga pengajaran-Nya.

Tuhan Yesus sendiri berkata: “Kuduskan mereka dalam kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran”.2 Pengudusan oleh darah Yesus menunjukkan bahwa semua dosa dan pelanggaran manusia dapat dihapus atau dianggap tidak pernah dilakukan, tetapi hal ini bukan berarti menghentikan tanggung jawab manusia dalam menyelesaikan karakter dosa di dalam dirinya (Ing. sinful nature). Terkait dengan hal ini hendaknya proses penghapusan dosa tidak dibayangkan seperti “sabun deterjen” yang membersihkan noda-noda di dalam hati, tetapi sebuah fakta bahwa manusia berdosa dinyatakan bebas dari perbuatan dosanya. Tetapi sekali lagi, hal ini tidak berarti meniadakan tanggung jawab manusia dalam menyelesaikan karakter dosa di dalam dirinya. Kalau tanggung jawab ini disia-siakan, maka berarti menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan berikan. Sangatlah jelas bahwa yang menyelamatkan manusia adalah pribadi Tuhan Yesus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita, selanjutnya Firman-Nya yang menguduskan dan memperbaharui. Seseorang tidak mungkin memiliki Tuhan Yesus tanpa Firman-Nya atau sebaliknya. Dalam hal ini, pengudusan melalui dua jalur, yaitu oleh darah-Nya dan oleh kebenaran-Nya. Seseorang yang mengerti pengajaran-Nya pasti memiliki Dia. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki pengajaran-Nya pasti tidak akan pernah memiliki Tuhan Yesus.

Kalau pengajaran Tuhan Yesus tidak terlalu penting, tetapi yang menyelamatkan hanya pribadi-Nya, maka Ia tidak perlu tiga setengah tahun berkeliling di seluruh Palestina untuk memberikan Injil Kerajaan Surga. Cukuplah dua minggu Ia ada di Palestina hanya untuk mati di kayu salib. Sehingga pemberitaan Injil tidak perlu ditindaklanjuti dengan penggembalaan dan pengajaran. Injil hanyalah berita mengenai penyaliban-Nya. Itu berarti Tuhan tidak perlu memberi mandat: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Ku-perintahkan kepadamu”.3 Keselamatan tidak perlu diperjuangkan. Tidak ada perintah untuk berusaha masuk jalan sempit.4 Tidak perlu ada nasihat: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”.5 Apa yang diajarkan Tuhan Yesus menggiring kepada Tuhan Yesus sendiri. Tanpa mengerti ajaran-Nya maka seseorang tidak akan memiliki persekutuan yang harmoni dengan Tuhan. Tanpa mengerti apa yang diajarkan, maka lambat laun seseorang akan menjadi pengkhianat seperti Yudas. Walau Yudas dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi karena dia materialistis, bahkan sering tidak jujur dengan uang yang dipercayakan kepadanya, maka ia tidak pernah mengerti kebenaran.6 Ini sangat ironis, tetapi inilah yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini. Kalau hal ini tidak ditanggulangi, maka banyak orang Kristen tidak penah menikmati keselamatan yang sangat berharga yang disediakan Tuhan Yesus melalui korban-Nya di kayu salib.

1) Roma 1:16 ; 2) Yohanes 17:17 ; 3) Matius 28:18-20 ; 4) Lukas 13:24 ; 5) Filipi 2:12 ; 6) Lukas 16:11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.