26. Dewasa Rohani Dan Dewasa Mental

TIDAK DAPAT DISANGKAL banyak orang di luar gereja menjadi lebih kokoh menerima realitas hidup dari pada sebagian orang Kristen. Banyak mereka yang ada di luar gereja sangat menerima kenyataan bahwa hidup ini pasti mengalami problem sehingga mereka sangat “welcome” pula terhadap segala sesuatu yang dapat mengganggu pikiran dan jiwa mereka. Karena sikap inilah maka mereka tidak menjadi manja menghadapi buas dan ganasnya kehidupan ini. Apa lagi mereka yang sudah terbiasa hidup dalam berbagai masalah karena dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang sulit dan berat. Seperti misalnya terlahir di lingkungan perang dan terorisme, terlahir di lingkungan pelacuran, di wilayah kumuh dan lain sebagainya. Mereka menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga menerima saja dengan pasrah dan rela. Kesulitan-kesulitan dan berbagai problem berat bagi mereka tidak lagi menjadi berat.

Ternyata melalui keadaan itu mereka berlatih menjadi dewasa mental. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang menjadi manja dalam menghadapi kehidupan ini. Mereka berharap keadaan selalu sesuai dengan keinginan mereka. Mereka tidak bisa menerima dengan mudah keadaan yang menurut mereka tidak menyenangkan. Mereka lupa bahwa mereka hidup di dunia yang sudah jatuh. Selain kepicikan pikiran mereka karena pengaruh lingkungan, kerentanan mereka juga dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah kampanye mengenai Tuhan yang berkuasa dan baik yang ditawarkan dapat selalu menghindarkan orang percaya dari berbagai problem kehidupan. Seakan-akan menjadi orang Kristen memiliki hak istimewa untuk bisa mengarungi hidup lebih mudah dan dijauhkan dari berbagai problem yang dapat membebani pikiran dan mengganggu jiwa. Sebagai akibatnya banyak orang Kristen yang secara mental saja tidak bertumbuh menjadi dewasa, apa lagi kedewasaan secara rohani. Tuhan memang baik dan berkuasa, tetapi bukan berarti kebaikan dan kuasa Tuhan dapat dimanfaatkan untuk menghindarkan diri dari problem kehidupan. Justru problem merupakan berkat Tuhan untuk mendewasakan manusia.

Kalau orang di luar gereja saja bisa memiliki kedewasaan mental sehingga mereka dapat menghadapi segala persoalan hidup yang berat sehingga pikiran dan jiwanya tidak terganggu, seharusnya orang percaya memiliki kedewasaan mental lebih dari itu bahkan memiliki kedewasaan rohani yang jauh lebih baik. Kedewasaan mental adalah kedewasaan yang bertalian dengan kemampuan seseorang bermasyarakat dan beradaptasi dengan lingkungan dan kecerdasan menghadapi hidup dengan persoalan-persoalan umum. Sedangkan kedewasan rohani selain memiliki kedewasaan mental juga memiliki kecerdasan roh yaitu kemampuan untuk bisa mengerti dan melakukan kehendak Tuhan sehingga dapat hidup berkenan di hadapan Tuhan. Seorang Kristen tidak akan pernah menjadi dewasa rohani kalau belum dewasa mental. Pertumbuhan kedewasaan mental dan rohani bisa berlangsung bersama, tetapi kedewasaan mental adalah level awal. Seorang yang memiliki kedewasaan mental belum tentu dewasa rohani, tetapi seorang yang dewasa rohani pasti dewasa mental.

Jika gereja mengajarkan bahwa menjadi orang Kristen berarti memiliki hak istimewa untuk mendapat kemudahan hidup yaitu dijauhkan dari problem-problem hidup yang dapat membebani pikiran dan mengganggu jiwa, maka problem-problem kehidupan selalu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Pada hal problem hidup adalah bagian dari “berkat Tuhan” yang di dalamnya orang percaya diproses untuk menjadi dewasa. Problem bisa menjadi bagian dari nutrisi jiwa yang dapat mendewasakan rohani orang percaya. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar kita mengucap syukur dalam segala hal.1 Hidup harus diterima sebagai perjuangan untuk menjadi dewasa rohani yang ukurannya adalah kesempurnaan Kristus.

1) Efesus 5:20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.