26 Desember 2014: Iman Sejarah

Satu hal yang sangat prinsip dalam kehidupan orang percaya adalah jawaban terhadap pertanyaan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia. Jawaban yang sering didengar adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa sesuai dengan Matius 1:21. Secara pengertian sempitnya demikian, tetapi pengertian luas dan mendalamnya harus dipahami dengan benar. Kegagalan memahami pengertian tersebut bisa mengakibatkan kegagalan memperoleh keselamatan. Kesalahan banyak orang Kristen selama ini beranggapan bahwa dengan memercayai fakta sejarah bahwa Allah Anak sudah menjadi manusia untuk memikul dosa maka secara otomatis telah dibebaskan dari dosa. Percaya seperti ini bukanlah percaya yang benar. Ini bukan percaya kepada Tuhan, tetapi hanya percaya kepada sejarah mengenai Tuhan Yesus; iman sejarah. Betapa dangkal pengertian orang yang merasa sudah percaya kepada Tuhan hanya karena percaya kepada sebuah sejarah. Betapa jahatnya orang yang mengajarkan bahwa dengan percaya seperti ini berarti sudah menjadi umat Tuhan yang memiliki keselamatan. Sejatinya, tidak cukup hanya setuju terhadap pernyataan Alkitab bahwa Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa, tetapi harus mengerti apa dosa itu, bagaimana proses keselamatan itu berlangsung dan bagaimana terlibat memberi diri dimerdekakan dari dosa. Dosa berarti meleset dari kesempurnaan atau hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini bukan hanya menyangkut perbuatan yang salah yang melanggar norma etika umum, tetapi keadaan manusia yang tidak sesuai dengan rancangan semula Allah. Keadaan yang tidak sesuai dengan rancangan semula ini membuat manusia tidak sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan; kecenderungan hatinya melakukan apa yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Oleh karena hal inilah Tuhan Yesus datang untuk membuat perubahan. Perubahan dalam diri seseorang itulah wujud nyata keselamatan. Jadi kalau ada orang Kristen yang keadaan hidupnya tidak berubah, yaitu semakin memiliki karakter sesuai dengan rancangan Allah semula, berarti ia belum selamat. Itulah sebabnya menjadi pekerjaan berat dan sepanjang umur hidup ini untuk belajar mengerti bagaimana rancangan Allah semula dan bertumbuh terus menuju kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Hal inilah yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Tanpa usaha yang serius seseorang tidak akan selamat. Alkitab jelas mengatakan “yang percaya kepada-Nya” beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Percaya di sini bukan hanya percaya keberadaan atau sejarah kehidupan Tuhan Yesus yang ditulis dalam Injil, tetapi melakukan kehendak Bapa. Dalam Matius 7:21-23 mereka yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan harus melakukan kehendak Bapa, jika tidak maka ia belum dihisapkan sebagai orang percaya. Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya (Yun. pisteuo). Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus berarti harus mau menerima ajakan Tuhan Yesus menjadi anak-anak Allah supaya Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29). Menjadi anak Allah berarti melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus tidak menerima orang yang mengaku percaya tetapi tidak berkelakuan seperti diri-Nya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa saudara-saudara-Nya adalah orang yang mendengar Firman Tuhan dan melakukan Firman itu atau menjadi pelaku Firman atau pelaku kehendak Allah (Luk. 8:21). Untuk menjadi anggota keluarga Allah, sesorang harus melakukan kehendak Allah. Tanpa syarat ini seseorang tidak akan menjadi anggota Kerajaan Allah. Syarat ini bukanlah bernilai suatu jasa, tetapi sebagai “respon” terhadap anugerah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.