25 Oktober 2014: Homologeo

Kata berterus terang dalam Matius 7:23, dalam teks aslinya adalah homologeo yang artinya confess (mengaku) dan declare (menyatakan secara resmi). Dalam Matius 7:23 tersebut Tuhan  menyatakan ada orang-orang yang ditolak oleh Allah karena tidak melakukan kehendak Bapa, walaupun mereka merasa sudah berprestasi luar biasa dalam pelayanan. Pada saat itu keadaan tidak bisa diubah lagi. Orang-orang itu tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Air mata dan ratapan tidak bisa mengubah keadaan, waktu pun tidak bisa ditarik ke belakang. Betapa mengerikan keadaan tersebut. Oleh sebab itu sebelum waktu itu tiba kita harus mengetahui dengan jelas bagaimana penilaian Tuhan terhadap diri kita masing-masing. Seandainya saat sekarang ini kita menghadap Tuhan apakah Dia mengakui kita sebagai orang yang sudah melakukan kehendak Bapa? Bagaimana hal ini bisa kita ketahui? Di sekolah kita sering bertemu dengan guru yang kurang baik, mereka tidak mau menunjukkan kesalahan pada tugas pelajaran yang diberikan kepada murid-murid. Sehingga murid-murid tidak tahu dimana letak kesalahan mereka. Tetapi ada juga guru yang baik, mereka bukan saja menunjukkan kesalahan murid-muridnya tetapi juga menunjukkan dimana letak kesalahan murid-murid tersebut. Sesungguhnya Tuhan lebih dari guru yang baik ini, Tuhan membimbing orang percaya sampai orang percaya tahu sendiri dimana kesalahan mereka. Tuhan bukan hanya menunjukkan bahwa sesuatu itu salah atau benar, tetapi Tuhan mengajar kita untuk mengerti dan memahami dengan benar dimana letak kesalahan kita dan bagaimana kita mulai bersalah. Hal ini bisa terjadi kalau kita belajar terus mengenal kebenaran Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan, artinya selalu menghayati kehadiran Tuhan yang mendidik atau mendewasakan. Dalam hal ini Roh Kudus akan menuntun kita kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Jadi, kalau seseorang terlambat bertumbuh di dalam kebenaran, sungguh betapa sukarnya ia dapat memperbaiki diri. Sebab dalam mencapai kedewasaan rohani yang benar, hal tersebut harus melalui tahapan-tahapan yang ketat dalam mencari kebenaran dan kepekaan untuk mendengar suara Tuhan. Seiring dengan pengenalan kita akan kebenaran dan kepekaan mendengar suara Tuhan maka kita akan semakin menemukan ketidakpantasan atau ketidaktepatan dalam hidup kita di hadapan Tuhan. Semua ini harus melalui sebuah proses yang bertahap dan panjang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.