25. Langkah Memperoleh Mahkota

DALAM 1KORINTUS 9:26-27 tertulis: Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Sebagaimana seorang atlit yang sedang berlomba, kita harus serius mengikuti perlombaan tersebut agar memperoleh piala atau mahkota sebagai pemenang. Demikian pula kita sebagai anak-anak Tuhan, dalam menjalankan panggilan kita untuk memperoleh mahkota kemuliaan, kita harus berjuang dengan serius. Untuk ini ada beberapa langkah yang harus kita lakukan. Pertama, kita harus tahu arah perjalanan hidup ini dan mengarahkan diri ke arah tujuan tersebut. Sebagai seorang atlit pelari, bukan hanya mampu berlari cepat tetapi juga harus tahu dimana garis finishnya. Demikian pula kita, sebagai peserta perlombaan iman atau perlombaan rohani, kita harus tahu arah perjalanan hidup ini. Fokus hidup yang benar adalah hidup untuk Tuhan dan menuju Kerajaan Surga. Hidup untuk Tuhan artinya selalu bertindak sesuai dengan kehendak hati Tuhan, sehingga kita bisa menyenangkan Tuhan. Menuju Kerajaan Surga artinya kita tidak lagi mengharapkan menikmati kebahagiaan atau kesenangan dari dunia ini.

Dalam Lukas 12:16-21 dikisahkan mengenai orang kaya yang semakin hari semakin menambah jumlah kekayaannya, tetapi ia tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Kasihan sekali, ternyata setelah ia berhasil mengumpulkan harta dalam jumlah yang besar, kemudian ia mati dalam kemiskinan di hadapan Tuhan. Orang-orang ini, secara dunia memang dipandang sebagai “orang sukses atau berhasil” yang memiliki prestasi dunia, tetapi tidak memiliki prestasi di kekekalan. Ia tidak kaya di hadapan Tuhan.

Ini bukan berarti memiliki kekayaan materi itu salah, bukan berarti menjadi orang kaya itu tidak boleh. Tetapi yang salah adalah arah hidupnya. Mereka yang cinta uang pasti arah hidupnya meleset. Dalam Lukas 16:19-31, dikisahkan orang kaya yang sibuk mengurusi diri sendiri sehingga ia lupa melayani sesamanya – dalam hal ini Lazarus. Ia tidak memedulikan orang lain sebab yang dipedulikan adalah dirinya sendiri. Jadi, sikap yang salah terhadap kekayaan dapat membuat hidup manusia tidak fokus kepada Tuhan, jauh dari ketepatan melakukan kehendak Tuhan. Dalam hal ini harus ditekankan, bahwa yang salah bukan terletak pada kekayaannya tetapi sikapnya, yaitu sikap yang menganggap harta kekayaan sebagai sesuatu yang termahal dan sumber sukacita hidup, sehingga jiwanya rusak. Bila fokus hidup bukan Tuhan dan kerajaan-Nya, maka seseorang pasti tidak melayani Tuhan. Ia pasti menjadi pribadi yang sewenang-wenang terhadap sesama.

Kedua, harus menguasai diri sepenuhnya. Maksud menguasai diri di sini adalah tidak menjadi lupa diri oleh karena kesenangan hidup di bumi ini, termasuk karena kekayaan dunia. Dalam hal ini kekayaan telah membuat orang kaya -yang digambarkan dalam Lukas 12:16-21 dan Lukas 16:19-31- menjadi lupa diri. Kekayaan telah membuat mereka tidak dapat menguasai dirinya sendiri sehingga menjadi hamba uang, cinta uang dan hal ini dapat membinasakan diri mereka sendiri.1 Oleh sebab itu rasul Paulus berkata: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Kalau seorang hamba Tuhan sekaliber Paulus mengatakan ini, dimana masih ada kemungkinan baginya bisa berbuat salah, maka sebagai jemaat kita harus lebih berhati-hati. Kalau tidak hati-hati, kita pun dapat binasa karena kekayaan ini. Sebagai hamba Tuhan, Paulus bersikap jujur, ia sadar bahwa ia tidak kebal terhadap dosa. Paulus pun bisa terpeleset dan berbuat kesalahan. Tetapi dengan menyadari hal ini dan mengakui secara jujur, maka seseorang akan berjaga-jaga, mengoreksi diri dan bersedia ditegur supaya bertobat dan selalu diperbaharui.

1) Efesus 5:20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.