25. KELIMPAHAN

BANYAK ORANG BERPIKIR kalau menjadi anak Allah berarti segala kebutuhan hidup jasmaninya akan mudah dipenuhi, jalan hidupnya menjadi lebih lancar dan hidup ini dapat dijalani lebih mudah. Seakan-akan Tuhan pasti mengistimewakan mereka tanpa syarat. Mereka percaya bahwa Allah sebagai Bapa akan menyenangkan anak-anak-Nya dengan berkat jasmani yang berkelimpahan. Biasanya mereka berpikir demikian sebab mereka mengacu pada Firman Tuhan dalam Yohanes 10:10 yang mengatakan bahwa Tuhan datang untuk memberi kelimpahan. Benarkah ini? Tetapi faktanya sering malah bertolak belakang. Kelimpahan dalam Yohanes 10:10 bukanlah berkat jasmani tetapi kelimpahan dalam arti kualitas hidup yang tinggi. Kualitas hidup yang tinggi tentunya adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya, Bapa lebih memperhatikan kelimpahan secara rohani dari pada kelimpahan secara jasmani. Justru demi kelimpahan secara rohani, orang percaya harus dibentuk Tuhan sedemikian rupa dengan berbagai proses yang sering kali tidak nyaman. Hidup menjadi tidak nyaman karena proses tersebut. Kalau Tuhan memandang berkat jasmani yang dimiliki seorang anak Tuhan membahayakan, maka Tuhan akan mengurangi, bahkan sampai pada tingkat ekstrim mengambil semuanya. Tuhan tidak mudah mengabulkan doa orang percaya jika apa yang diminta orang percaya adalah sesuatu yang membahayakan.

Allah sebagai Bapa pasti memelihara kehidupan jasmani anak-anak-Nya dengan sempurna. Tetapi Bapa lebih mengutamakan pemeliharaan rohani dan kedewasaan iman orang percaya agar mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.1 Dalam Ibrani 12:5-9, dikatakan bahwa Ia adalah Bapa yang mendidik anak-anak-Nya. Didikan tersebut memang sementara untuk waktu tidak mendatang sukacita, artinya orang percaya yang sedang dididik oleh Allah Bapa merasakan kehidupan yang tidak nyaman. Tetapi didikan tersebut menghasilkan damai dalam kehidupan orang percaya,2 yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan yang bernilai kekal. Dalam hal ini penyertaan Tuhan tidak selalu memberi kenyamanan, sebaliknya malah ketidak nyamanan, sebab kehadiran-Nya dalam hidup orang percaya adalah mendidik, mendewasakan dan menyempurnakan agar orang percaya dikembalikan ke rancangan semula Allah.

Bapa tidak akan mengorbanan pendidikan rohani yaitu kesempurnaan sebagai anak-anak-Nya secara moral dengan kelimpahan jasmani. Banyak pembicara di mimbar mengesankan bahwa Bapa mau berperkara dengan umat-Nya berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Adapun mengenai kehidupan rohani dikesankan bisa bertumbuh dengan sendirinya secara otomatis dan mudah. Itulah sebabnya dalan pertemuan-pertemuan bersama di beberapa gereja yang mereka utamakan adalah puji-pujian dan pengagungan terhadap kuasa dan kebaikan Tuhan. Dengan hal itu dilakukan mereka meyakini bahwa kuasa dan berkat Tuhan dicurahkan. Tentu maksudnya adalah berkat jasmani. Para pemimpin rohani seakan-akan memiliki kuasa untuk menarik berkat Tuhan dari surga. Mereka beranggapan bahwa Tuhan hanya akan melimpahkan berkat-Nya melalui hamba-hamba Tuhan. Harus dipahami bahwa kelimpahan jasmani hanya sementara tetapi kedewasaan rohani dimana orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya merupakan harta abadi yang tidak terbeli dengan apa pun. Oleh sebab itu sangatlah keliru kalau diajarkan bahwa Bapa memperhatikan pemenuhan kebutuhan jasmani tetapi tidak memperhatikan pendewasaan rohani. Justru sebaliknya Bapa akan sangat memperhatikan kedewasan rohani lebih dari pemenuhan kebutuhan jasmani. Bila perlu Bapa akan mengorbankan pemenuhan kebutuhan jasmani demi kedewasaan rohani orang percaya. Dalam hal ini pemeliharaan Allah Bapa lebih terfokus pada kehidupan rohani.

1) Ibrani 12:10 ; 2) Ibrani 12:11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.