25 Januari 2015: Energi Yang Disia-Siakan

Ada kisah nyata yang jarang terjadi di dunia ini, seorang perdana mentri yang dicopot dari jabatannya yang sangat terhormat hanya karena hobi memasak. Tetapi inilah fakta yang terjadi di Thailand. Perdana menteri Negeri gajah Putih Samak Sundaravay, diperintahkan oleh Mahkamah Konstitusi Thailand pada awal bulan September 2008 untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri. Persoalannya sepele, perdana menteri ini dituduh menerima gaji dari salah satu stasiun televisi karena membawakan acara kuliner. Memang inilah hobi berat Samak sebelum menjadi perdana menteri. Mahkamah konstitusi Thailand memutuskan bahwa Samak melanggar undang-undang selaku perdana menteri. Akhirnya sang perdana menteri harus lengser dari jabatannya. Pertanyaannya, berapa bayaran yang Samak terima dari stasiun televisi dengan mengasuh acara tersebut, sampai-sampai ia menanggalkan jabatannya yang tinggi dan sangat terhormat? Ternyata bayaran yang diterima Samak per episode hanya sejumlah uang sekitar Rp. 540.000,- dinilai dari kurs rupiah pada waktu itu. Suatu jumlah yang sangat kecil, ya terlampau kecil dibandingkan dengan tugas besar yang disandangnya sebagai perdana menteri.

Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah nyata tersebut adalah sikap hati-hati yang harus kita miliki terhadap apa yang kita anggap penting dan berarti, pada hal sesungguhnya hal tersebut tidak ada artinya dibanding hal besar yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Hal-hal yang tidak berarti tersebut dapat menyita waktu, pikiran dan semua potensi diri. Banyak orang Kristen yang memiliki berbagai kesibukan yang sebenarnya tidak berarti, sehingga melupakan apa yang seharusnya dianggap dan diperlakukan lebih penting. Inilah yang disebut “asyik dengan hal-hal yang tidak berarti”. Mengapa hal ini terjadi dalam kehidupan orang percaya? Sebab mereka menyamakan standar hidup orang percaya dengan dunia sekitarnya. Bagi anak-anak dunia, sudah biasa melakukan segala sesuatu hanya untuk menyenangkan diri sendiri, pada hal apa yang dilakukan tersebut tidak memiliki dampak yang positif terhadap kehidupan kekal-Nya. Tetapi mereka tidak peduli sebab mereka tidak mengerti hal kekekalan.

Kita harus belajar dari peristiwa yang dialami Esau. Hanya untuk semangkuk bubur, ia menjadi terlena dan menjual atau membuang hak kesulungannya kepada orang lain. Ia tidak berpikir bahwa akibat dari perbuatannya tersebut ia kehilangan sesuatu yang tak ternilai yaitu hak kesulungan yang sebenarnya menjadi haknya.1 Oleh sebab itu kita jangan sampai terlena oleh kesenangan-kesenangan sementara. Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus ditukar dengan hal-hal yang tidak berarti adalah “kebodohan”. Inilah yang terjadi dewasa ini, bahkan bukan tidak mungkin kita sendiri sedang dalam keadaan seperti ini. Oleh sebab itu kita harus memeriksa diri kita dengan seksama: Apakah masih ada berhala dalam hidup ini? Berhala artinya segala sesuatu yang kita anggap berharga lebih dari Tuhan sendiri pada hal-hal itu tidak memiliki nilai yang berarti seperti semangkuk yang berisi kacang merah yang membuat Esau tidak menghargai hak kesulungannya.

Berhala dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang membuat seseorang melakukan ketidak setiaan atau percabulan rohani dimulai dari hal-hal sederhana atau sepele; hal-hal tidak berarti yang hanya menyenangkan hati sesaat. Banyak orang mentolerir tindakan-tindakan bodoh seperti menghabiskan waktu di depan TV, shopping berkepanjangan, bersolek berlebihan, bacaan yang tidak sehat, berteman karib dengan orang yang tidak mengasihi Tuhan dan lain sebagainya. Suatu hari orang-orang seperti ini akan sangat menyesal. Penyesalan atas kebodohan ini memang tidak bisa dibayangkan pada hari ini, bagi orang yang tidak takut akan Tuhan, tetapi bisa bagi mereka yang takut akan Tuhan. Hal-hal ini kelihatannya sepele dan tidak melanggar kesantunan hidup tetapi ternyata menguras energi sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh dalam Tuhan dihamburkan dengan sia-sia. Dengan cara ini seseorang membunuh kehidupan imannya yang seharusnya bertumbuh secara bertahap.

1) Ibrani 12:15-17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.