25. INTEGRITAS

SEBAGAIMANA SEBUAH pemerintahan untuk penyelenggaraannya dibutuhkan pengelolaan yang baik, pengorganisasian, tatanan dan hukum yang disebut sebagai ketatanegaraan. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya harus belajar ketatanegaraan keluarga Kerajaan Allah, yaitu bagaimana menyelenggarakan pemerintahan yang baik sesuai dengan pemerintahan pusat yaitu Kerajaan Allah. Pemerintahan hidup kita ini harus dihubungkan dengan pemerintahan pusat tersebut. Tuhan Yesus menyatakan bahwa “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara orang percaya”.1 Kerajaan Allah di sini artinya pemerintahan atau pengaturan Allah. Kata “di antara” dalam ayat ini sebenarnya terjemahan dari entos (ἐντός) yang mestinya diterjemahkan inside atau within. Jadi, pemerintahan ini pemerintahan yang berasal dalam diri Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa pengaturan hidup orang percaya berangkat dari dalam dirinya sendiri dimana Allah melalui Roh Kudus menuntun orang percaya untuk dapat memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Hal ini yang memungkinkan seseorang hidup dalam pemerintahan Allah.

Untuk memiliki pengertian mengenai bagaimana menyelenggarakan pemerintahan Allah, dasarnya adalah mengenal pribadi Tuhan, yaitu memahami cara berpikir Allah, selera Allah, pikiran dan perasaan Allah sendiri. Pemerintahan orang percaya bukanlah pemerintahan yang diatur oleh hukum atau peraturan yang sama dengan syariat yang tertulis, tetapi diatur oleh Allah sendiri. Tuhan Yesus adalah pribadi yang telah menjalani pemerintahan Allah dengan sempurna. Prinsipnya adalah “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”.2 Pada intinya orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan seperti kehidupan Tuhan Yesus. Ini merupakan anugerah yang sangat besar. Orang percaya adalah orang-orang yang memiliki karunia sulung roh, yaitu orang-orang yang dirancang untuk memperoleh bagian yang terbaik dari Allah. Inilah yang terbaik itu, yaitu orang percaya dimungkinkan untuk memiliki pemerintahan Allah di dalam diri-Nya. Untuk dapat memiliki pemerintahan Allah dalam dirinya, orang percaya harus memilki nurani Ilahi atau memiliki kodrat Ilahi.

Pemerintahan Allah atas hidup seseorang membuat hidup seseorang menjadi sangat eksklusif. Pola kehidupan seperti ini dalam kondisi tertentu bisa berbenturan dengan lingkungannya, terutama lingkungan yang tidak mengenal kebenaran Injil. Di sini tidak jarang terjadi pemisahan antara orang tua dengan anak, ibu dengan anak gadisnya dan menantu perempuan dengan ibu mertuanya.3 Dan yang paling jelas, kehidupan orang yang hidup dalam pemerintahan Allah adalah kehidupan yang sangat berbeda dengan lingkungannya. Kalau selama ini tidak ada perbedaan yang tajam antara orang kristen dengan mereka yang tidak percaya, hal ini disebabkan karena banyak orang kristen yang belum sungguh-sungguh mengenakan kehidupan dalam pemerintahan Allah. Hidup dalam pemerintahan Allah tidak dapat dikompromikan dengan gaya hidup manusia pada umumnya yang tidak hidup dalam pemerintahan Allah.

Perbedaan tajam itu bukan hanya antara orang kristen dengan orang non kristen, tetapi juga antara orang kristen yang sudah hidup dalam pemerintahan Allah dan orang kristen yang belum hidup dalam pemerintahan Allah. Di tengah-tengah serbuan pengaruh dunia, orang percaya harus tetap mempertahanakan integritasnya. Dalam Lukas 18:1-8 Tuhan Yesus menunjukkan ketekunan orang percaya dalam mempertahankan iman yang benar. Di akhir zaman ini, Tuhan akan sulit menemukan iman di bumi. Maksudnya iman di bumi adalah kehidupan keberimanan yang sesuai dengan standar Tuhan Yesus, yaitu hidup dalam pemerintahan Allah. Apa pun yang terjadi orang percaya harus nekad hidup dalam iman yang benar. Kekhawatiran Tuhan Yesus tidak mendapati iman di bumi, menunjukkan betapa sulitnya menemukan orang percaya yang hidup dalam pemerintahan Allah yang benar, sebab pada umumnya orang memerintah dirinya sendiri.

1) Lukas 17:21 ; 2) Yohanes 4:34 ; 3) Matius 10:35

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.