25. Cap Pada Hati Nurani

SECARA KHUSUS KITA akan memperhatikan kata “cap” yang terdapat dalam 1Timotius 4:2. Kata ini dalam teks aslinya adalah kausteriadzo (καυτηριάζω), yang artinya dihanguskan oleh besi yang dipanasi (Ing. sear with a hot iron). Hal ini mengingatkan kita pada kuda yang dicap dengan besi panas untuk menandainya. Sampai dimana dan kapan pun binatang itu akan dikenal siapa pemiliknya. Selain binatang, budak pada zaman dulu ditato di bagian tubuhnya untuk menandai bahwa ia dimiliki oleh seorang tuan atau majikan. Tato itu juga dapat menggunakan besi panas yang akan membuat tanda yang tidak akan dapat dihapus dalam tubuh budak tersebut. Sampai dimana dan kapan pun budak itu akan dikenal siapa pemiliknya. Hal ini memberikan pelajaran yang berharga.

Dari kalimat dalam 1Timotius 4:2 (oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka), ternyata hati nurani memiliki cap. Manusia bisa men“cap” hati nuraninya sendiri. Tentu cap yang digunakan adalah suara dunia. Suara dunia bukanlah suara dari Bapa. Orang-orang seperti itu tidak menyampaikan kebenaran Tuhan, tetapi doktri-doktrin palsu, doktrin atau pengajaran yang dinyatakan berasal dari Tuhan padahal bukan. Kata “pendusta” dalam teks aslinya adalah pseudologos (ψευδολόγος) artinya firman yang dipalsukan. Firman yang dipalsukan tersebut membuat seseorang tidak bisa menjadi milik Tuhan. Jadi yang membuat seseorang menjadi milik Tuhan adalah ketika kebenaran Firman yang memadai memenuhi jiwa seseorang sehingga mengerti segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan Tuhan.

Sangatlah mudah seseorang mengaku bahwa dirinya milik Tuhan, tetapi apakah benar demikian? Yang membuktikan apakah dirinya milik Tuhan atau tidak adalah cap apakah yang digoreskan pada pada hati nuraninya. Penandaan ini bukan melalui tindakan sesaat, tetapi melalui perjalanan hidup panjang yaitu apakah yang sering diterimanya melalui mata dan telinganya. Dalam hal ini nyata sekali bahwa filosofi hidup yang diterimanya adalah yang menjadi cap nurani seseorang. Seperti binatang atau budak yang dicap dengan besi panas sehingga tanda itu tidak akan pernah bisa dihapus, demikian pula dengan orang-orang yang sudah terlalu lama mendengar filosofi dunia, sampai ia tidak pernah bisa mengerti kebenaran. Hati nuraninya sudah memiliki warna tertentu yang tidak bisa diubah lagi. Inilah yang Paulus katakana, “mereka mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga mereka, sehingga mereka tidak bisa lagi mendengar kebenaran”.1

Dalam 1Timotius 4:1-16 Paulus menulis kepada anak rohaninya mengenai penyesatan. Dalam teks tersebut muncul “pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka”. Mereka adalah pengajar-pengajar yang tidak pernah belajar kebenaran dengan benar sehingga tidak mengenal kebenaran. Hati nurani mereka belum dicap dengan kebenaran. Tidak sedikit di antara mereka adalah mantan pengusaha, mantan artis atau seorang olahragawan, mantan pejabat, mantan dukun dan berbagai bidang profesi yang belum waktunya mengajar, tetapi sudah mengajar dan merumuskan pengajaran. Disertai dengan tanda-tanda ajaib, mereka merasa sudah disertai Tuhan dan berjalan di jalan yang benar. Kemudian mereka merasa berhak merumuskan pengajaran; semestinya pengalaman hidup tidak boleh menjadi dasar pengajaran. Ada yang mengalami mukjizat dalam sekejap, tetapi selama puluhan tahun mereka menyerap filosofi dunia yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebenarnya mereka belum memiliki cap kebenaran. Dapat dibuktikan setelah mereka menjadi pendeta, maka mereka mengajarkan kemakmuran duniawi yang sebenarnya bertentangan dengan Injil yang murni. Mereka sendiri bangga dengan mobil mewah dan segala berkat jasmani lainnya. Sulit mengatakan bahwa mereka bukan penyesat.

1)2Timotius 4:3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.