25. Aktif Bergerak

HARUS DIMENGERTI dengan benar apa yang dimaksud dengan penyerahan diri kepada Allah. Menyerah kepada Allah bukan berarti menjadi pasif, tetapi sebaliknya menjadi aktif. Aktif mencari kehendak-Nya dan mengenal-Nya lebih dalam. Aktif mengontrol seluruh kehidupan. Di sini Roh Kudus akan menolong kita menghasilkan buah “self control”.1 Dalam Galatia 5:25 Firman Tuhan berkata: “If we live in the spirit let us walk in the spirit”. Baiklah hidup kita dipimpin oleh Roh, ayat ini merupakan ajakan agar kita memberi diri dipimpin oleh Roh. Pemberian diri dipimpin oleh Roh adalah suatu proses yang berat. Dituntut kepada masing-masing individu untuk memiliki tekad yang bulat, komitmen yang jelas dan kuat. Bila tidak, maka proses penyucian tidak akan berlangsung. Kekudusan itu rupanya juga hasil kerja sama antara Allah dan manusia. Panggilan kerja sama ini juga nyata dalam ayat di Filipi 2:12-13. Kita memiliki langkah dan Allah menyertai langkah kita dalam proyek pengudusan ini. Jadi tidak bisa hanya satu pihak, harus dua pihak. Allah sangat menuntut dan menghendaki respon manusia bukan saja dalam hal menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, tetapi juga dalam hal mengembangkan karunia yang Tuhan berikan, yaitu bekerja sama dengan Roh Kudus guna membangun kesucian hidup secara pribadi.

Jagaku Tuhan seperti biji mata-Mu, demikianlah kalimat suatu lagu yang terambil dari ayat suci Alkitab. Tetapi apakah kita menikmati penjagaan Tuhan kalau kita sendiri tidak menjaga diri kita dengan seksama? Dalam hal ini kita menemukan bahwa aktivitas manusia sangat menentukan keselamatan manusia itu sendiri. Sehingga terkesan bahwa kita yang dapat menolong diri kita sendiri. Panggilan untuk aktif juga kita dapat jumpai di banyak ayat dalam Alkitab. Dalam Matius 12:43-45, “rumah kosong” berbicara mengenai malasnya pemilik rumah mengisi rumahnya sehingga Iblis dapat kembali memiliki rumah tersebut. Dalam Roma 12:1-2, “persembahan diri dan pengabdian pelayanan” haruslah suatu gerak agresif dari kita. Harus tetap diingat bahwa peserta perlombaan atau pertandingan haruslah seorang yang agresif bergerak.2 Ia harus aktif untuk memenangkan pertandingan itu. Kalau kita tidak mulai bertindak sejak sekarang, kita tidak akan berkesempatan esok. Di perlombaan ini kita tidak mengharap orang lain berlomba untuk kita, kita harus berlomba sendiri, yang karenanya kita beroleh mahkota.

Harus dicamkan bahwa pengertian seseorang akan kebenaran Firman Tuhan sangat menentukan kondisi rohani orang tersebut. Pemahaman seseorang tentang kebenaran sangat menentukan mutu rohani dan mutu hidup seseorang.3 Dalam Injil Matius 6:22-23, Tuhan Yesus menjelaskan tentang mata yang adalah pelita tubuh, bila mata seseorang gelap maka gelaplah seluruh hidup orang tersebut. “Mata” di sini menunjuk kepada pengertian tentang hidup. Dalam Matius 6:19-24 konteks pembicaraan mengenai harta dunia, maka jika seseorang memiliki pengertian bahwa hidup ini adalah memburu harta dunia hidupnya pasti gelap, jauh dari kasih karunia Allah.

Harus dimengerti bahwa bukan saja orang yang telah terikat dengan dunia ini yang mudah disesatkan, tetapi orang-orang tulus dan saleh pun dapat disesatkan, apabila ia menerima penyesatan kebenaran. Ia berdoa tetapi dengan konsep doa yang salah. Memuji dan menyembah Tuhan dengan konsep yang salah. Ia melayani dengan konsep pelayanan keliru. Pengenalan akan Allah tidak benar. Ini semua merupakan penyesatan yang akan menghambat pertumbuhan kedewasaan rohani. Menyadari kebenaran ini maka seseorang tidak boleh takut untuk berubah, dikoreksi dan bertindak untuk bertobat. Supaya kita tidak tinggal dalam pemalsuan-pemalsuan, kita harus terus mengaktifkan pikiran, hati nurani dan aktif dalam tindakan agar kita semakin memiliki kecerdasan rohani, semakin memahami kebenaran dan selalu mampu mendeteksi setiap pemalsuan- pemalsuan atau penyesatan kebenaran.

1) Galatia 5:21-22; 2) 1Korintus 9:24; 3) Yohanes 17:3; 2Petrus 1:3-4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.