24. Tawanan Roh

KITA HARUS BERHATI-HATI agar tidak terjebak dengan pengajaran yang menghilangkan atau melemahkan prinsip kebebasan dan tanggung jawab manusia. Dipimpin oleh Roh atau terjemahan lain berjalan dalam Roh, hendaknya tidak dimengerti bahwa orang percaya menjadi seperti robot yang diatur oleh “remote control”. Bila selalu diartikan demikian, berarti mereka tidak mengerti dan menyalahi prinsip kehendak bebas. Harus dicamkan bahwa, Tuhan tidak akan merenggut atau mengambil alih kesadaran dan kebebasan seseorang dalam mengambil suatu keputusan dan bertindak. Roh Kudus menuntun orang percaya dengan lembut dan mereka harus belajar dan terus berlatih untuk mengerti kehendak-Nya, untuk dilakukan. Latihan demi latihan akan menyanggupkan seseorang hidup sesuai dengan kehendak Tuhan tanpa diatur oleh suatu peraturan atau hukum. Sesungguhnya inilah rancangan Allah semula, yaitu menciptakan manusia sesuai dengan rupa dan gambar diri-Nya. Keadaan serupa dan segambar dengan Allah, adalah keadaan dimana manusia selalu bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Menjadi kehendak Allah agar kita mengontrol kehendak dalam jiwa melalui roh atau neshamah yang telah dibangun oleh kebenaran Firman Tuhan. Seperti seorang mengendarai mobil, ia menguasai seluruh elemen operasional mobil itu sehingga mobil dapat berjalan sempurna. Demikian pula manusia mengontrol dirinya dengan seksama untuk hidup seturut kehendak Allah. Penguasaan diri untuk hidup seturut Firman Tuhan atau hidup dalam ketaatan dalam tingkat tertentu, membuat seseorang dapat menjadi tawanan Roh. Ini adalah kerohanian tingkat tinggi seorang anak Tuhan, dimana ia dapat berkata “hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”.1 Mengapa demikian? Sebab seseorang yang hidup dalam penurutan yang terus menerus terhadap kehendak Roh akan sampai pada level “ditawan roh”.

Seseorang yang menjadi tawanan Roh adalah orang yang menuruti kehendak Roh secara mutlak –bukan atas dasar kedaulatan absolut Allah yang mencengkeram diri seseorang dan menghilangkan kebebasannyatetapi orang tersebut telah memiliki penurutan sedemikian rupa akibat membiasakan diri menuruti kehendak-Nya, kebiasaan berjalan dalam Roh. Pembiasaan diri menuruti kehendak Allah melalui penyangkalan diri terus menerus akan membuahkan buah-buah Roh. Pada tingkat inilah seseorang dapat semakin menjadi tawanan Roh. Karenanya dalam Galatia 5:16-26 Paulus memberi isarat bahwa orang percaya diperhadapkan pada dua pilihan, apakah menghasilkan buah Roh atau menghasilkan buah daging. Jadi, orang percaya bisa menghasilkan buah Roh, tetapi juga dapat menghasilkan buah daging. Hal ini tergantung keputusan dan pilihan hidupnya setiap hari. Orang percaya harus berjuang supaya tidak hidup menuruti dagingnya tetapi menurut Roh, dengan demikian hidupnya akan menghasilkan buah-buah Roh. Dalam penghakiman nanti hal ini akan diperhitungkan.

Seorang yang menghasilkan buah roh sejajar dengan orang yang suci hatinya sehingga peka terhadap kehendak Tuhan. Semakin seseorang memberi diri dipimpin oleh Roh Tuhan, maka semakin peka terhadap kehendak Allah. Kepekaan ini akan membuat seseorang bisa dipercayai untuk menerima karunia-karunia roh. Dengan cara hidup demikian ini, seseorang sungguh-sungguh dapat memuaskan hati Tuhan. Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya terus berjuang untuk menjadi orang yang hidup dalam tawanan roh. Rohnya sendiri bukan dagingnya. Kehidupan yang selalu menuruti kehendak roh yaitu melakukan apa yang “ pikiran dan perasan roh ingini” menghasilkan kehidupan yang “ditawan oleh roh.” Menjadi tawanan rohnya, berarti bisa hidup dalam pimpinan Roh Allah. Di sini seseorang akan peka terhadap rencana Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan kehendaki.2 Ketika seseorang peka terhadap kehendak Allah, maka ia bisa melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa artinya kehendak secara khusus yang diperuntukkan bagi orang tersebut.

1) Galatia 2:19-20 ; 2) Roma 12:2

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.