24. PUSAT PEMERINTAHAN

SESUNGGUNYA BANYAK orang yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki wilayah yang harus dikuasai dalam ketertundukkan kepada Tuhan, itulah sebabnya hidup mereka menjadi ceroboh. Mereka tidak menyadari betapa terhormatnya menjadi manusia yang diberi kehormatan memerintah dirinya sendiri. Tuhan pun tidak intervensi sehingga menghilangkan kebebasan individu dalam memerintah dirinya. Di sinilah letak kebesaran manusia, dimana manusia diberi wilayah oleh Tuhan untuk dikuasai. Dalam kekuasaan atas wilayah tersebut ia harus tetap menundukkan diri pada Tuhan sebagai Tuan atas wilayah hidupnya. Dengan demikian ia tidak berdaulat sendiri. Ia harus tunduk kepada kedaulatan pemerintahan Allah yang ada di atasnya. Pada dasarnya wilayah yang dikuasai adalah bagian dari kekuasaan Allah sebagai Raja di atas segalanya. Itulah sebabnya dalam Doa Bapa Kamiterdapat kalimat: “Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya”.1

Dalam memerintah diri sendiri, orang percaya harus menghubungkannya dengan Tuhan sebagai Raja atau sebagai pusat pemerintahan. Bagaimanapun ia tidak dapat mandiri dan memiliki kedaulatannya sendiri. Terkait dengan hal ini kita belajar dari kejatuhan Lusifer yang hendak berdaulat atas hidup dan wilayah yang Tuhan berikan kepadanya. Ketika Lusifer berkata bahwa ia hendak menyamai yang Mahatinggi, bukan dalam arti bahwa ia bisa melampaui Tuhan (ia tidak akan dapat melampaui Tuhan), tetapi ia menghendaki suatu wilayah yang tidak menjadi bagian dari Kerajaan dan kekuasaan Allah.

Dengan penjelasan di atas ini maka bisa diduga bahwa Lusifer diciptakan Tuhan untuk memerintah atau menerima kekuasaan. Itulah sebabnya ia memiliki batas-batas kekuasaan. Masalah yang ditimbulkan adalah ketika ia keluar dari batas kekuasaannya, dan mengambil wilayah kekuasaan Allah Bapa. Ia hendak menyamai Yang Mahatinggi. Alkitab katakan bahwa Lucifer melanggar kekudusan tempat kudus-Nya.2 Kata tempat kudus dalam teks ini dapat diterjemahkan “the places of worship” (Ibr. miqqedash). Kata miqqedash dapat diterjermahkan chapel, yang menunjuk tempat ibadah. Seharusnya mereka tidak melampaui batas wilayah yang dipatok Tuhan bagi mereka, tetapi mereka melanggar batas kekuasaan mereka sehingga mereka dihukum. Lusifer juga menyeret malaikat-malaikat untuk memberontak kepada Allah, sebagaimana tertulis dalam Yudas 6: “Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar”. Sebagai akibat pemberontakannya, ia dibuang ke dalam gua-gua yang gelap.

Setiap individu bertanggung jawab atas pemerintahan hidupnya tersebut dengan baik dan suatu hari setiap orang harus mempertanggung- jawabkan hidupnya tersebut di hadapan Tuhan. Dalam hal ini Tuhan adalah pusat pemerintahannya dan setiap orang adalah wilayah-wilayahnya. Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan mengajarkan kepada kita kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu”, yang artinya ajarkan aku memiliki pemerintahan yang berpusat pada Kerajaan-Mu.3 Segala gerak pemerintahan di dalam wilayah kita harus hanya seturut dengan pengaturan pemerintahan pusat. Kita harus terus menerus dalam kesadaran bahwa kita ada dalam pemerintahan Allah dan harus tunduk secara absolut terhadap Maharaja kita. Kita tidak pernah memiliki wilayah kita sendiri.

Sejujurnya, banyak wilayah hidup orang Kristen yang terpisah dari pemerintah pusat, tetapi masih mengibarkan bendera pemerintahan pusat. Panji yang dikibarkan adalah panji Kerajaan Allah, tetapi di dalamnya penyelenggaraan pemerintahannya tidak sesuai dengan pengaturan pemerintahan pusat. Sesungguhnya mereka menjadi raja-raja kecil tanpa tunduk kepada kedaulatan Tuhan. Dalam pemerintahan wilayah kita, seharusnya kita hanya melaksanakan kehendak Raja Besar. Orang percaya seperti raja kecil yang menundukkan diri kepada Raja Besar, dimana suatu hari raja kecil akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya.

1) Matius 6:13 ; 2) Yehezkiel 28:18 ; 3) Matius 6:10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.