24. ORIENTASI PENGALAMAN DENGAN TUHAN

BANYAK ORANG beragama yang memercayai Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Sebenarnya ada dua jenis pengalaman dengan Tuhan yang juga merupakan dua tingkatan. Pertama, pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi, ini tingkat tinggi dan yang kedua, pengalaman dengan Tuhan yang tidak berkualitas tinggi, tingkat lebih rendah. Mengemukakan hal ini bukan berarti ada pengalaman dengan Tuhan yang bisa dianggap remeh atau tidak berkualitas, sehingga kita memandang rendah. Namun demikian tidak bisa disangkal, memang jika membanding dua jenis pengalaman seperti yang akan dijelaskan di bawah, mau tidak mau kita harus mengatakan ada pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi dan ada yang tidak berkualitas tinggi. Tetapi tentunya dua-duanya berkualitas. Mengalami Tuhan dengan kualitas tinggi artinya adanya keterlibatan seseorang dengan Tuhan untuk didewasakan agar orang percaya tersebut dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki dan dapat memenuhi rencana-Nya. Sejujurnya tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah mengalami Tuhan secara berkualitas tinggi. Hal ini hanya terjadi atas orang-orang yang dengan sepenuh hati mengasihi Tuhan dan berusaha untuk melakukan kehendak Tuhan. Pengalaman-pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi ini menyempurnakan hidup seseorang untuk dapat mencapai kehidupan yang sesuai dengan rancangan Allah semula. Sedikit sekali orang yang memiliki pengalaman ini. Hal ini hanya terjadi atas orang percaya yang mengalami penggarapan Roh Kudus sebagai murid-murid Tuhan Yesus atau yang menerima pendidikan dari Bapa. Pengalaman ini adalah anugerah, tidak kepada semua orang.

Pengalaman yang tidak berkualitas tinggi dengan Tuhan artinya pengalaman dengan Tuhan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Seperti contohnya, terhindar dari kecelakaan maut, terpenuhinya kebutuhan keuangan di tengah keadaan sulit dan mustahil, kesembuhan dari sakit berat dan lain sebagainya. Semua peristiwa tersebut belum tentu bertalian dengan melakukan kehendak Tuhan dan belum tentu dapat membuat rencana Tuhan digenapi. Pengalaman seperti ini belum tentu dapat mendewasakan kehidupan anak Tuhan untuk menjadi seperti rancangan semula. Pada umumnya pengalaman dengan Tuhan yang dimiliki banyak orang adalah pengalaman yang tidak berkualitas tinggi. Banyak orang beragama lain juga memiliki pengalaman serupa dengan hal ini dan mereka berusaha memaknai sebagai perbuatan allah yang mereka percayai. Padahal belum tentu allah mereka yang bertindak. Pengalaman yang tidak berkualitas tinggi tidak jarang hanya berporos atau bermuara pada kepentingan pribadi manusia.

Sebenarnya pengalaman istimewa yang tidak berkualitas tinggi pun tidak mudah dialami, seperti misalnya sebuah kecelakaan dimana semua orang meninggal tetapi ada seorang yang tidak meninggal. Contoh lain misalnya seseorang mengalami kesembuhan dari penyakit berat secara ajaib. Oleh karena tidak mudah mengalami Tuhan, maka banyak orang menciptakan atau mengarang cerita mengenai kehadiran Tuhan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dalam kehidupan orang Kristen cerita-cerita tersebut disebut sebagai kesaksian. Mereka mencoba memberi isi atau memaknai pengalaman-pengalaman hidup mereka sebagai bukti kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Dengan demikian mereka merasa telah mengalami Tuhan. Biasanya kesaksian-kesaksian itu menjadi kebanggan atau menjadi nilai lebih mereka di tengah-tengah orang beragama. Kalau di tengah-tengah orang tidak beragama atau tidak percaya Tuhan, hal itu sebagai usaha untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa. Tidak sedikit aktivis, pendeta dan jemaat Kristen mencoba mengangkat diri untuk diakui sebagai anak Tuhan atau hamba Tuhan yang luar biasa, dengan mengemukakan kesaksian-kesaksian.

Memang kesaksian bisa merupakan bukti campur tangan Tuhan dalam hidup, tetapi juga bisa merupakan fenomena umum yang juga dialami orang-orang yang tidak percaya Tuhan Yesus. Dalam agama-agama manapun sering terjadi peristiwa yang dapat diisi sebagai tindakan allah, ilah atau dewa mereka. Mereka meyakini sebagai campur tangan allah mereka secara riil. Keberhasilan seseorang dalam prestasi tertentu membuat mereka mengucap syukur kepada allahnya. Seperti misalnya seorang yang mendapatkan juara tertentu atau menjadi pemenang sebuah perlombaan. Mereka menyebut nama allah mereka dan menunjukkan kepada obyek allah tertentu sebagai ucapan syukur. Sekaligus penyebutan nama allah tersebut sebagai sarana promosi atau kampanye keyakinan mereka.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.