24 Oktober 2014: Orang-Orang Hidup

Kalau kita berbicara mengenai orang yang terhilang, tekanannya sebenarnya bukan hanya karena orang tersebut tidak ke gereja atau tidak dekat dengan Tuhan dalam liturgi kebaktian, tetapi yang utama adalah hati yang telah diserahkan kepada dunia ini. Berkenaan dengan hal ini Yohanes dalam suratnya berkata: “Kalau seseorang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada pada orang tersebut” (1Yoh. 2:15-17). Dalam surat Yakobus, orang yang mengasihi dunia berarti menjadikan dirinya musuh Allah, ia tidak setia, ia selingkuh (Yak. 4:4). Hal ini berarti bahwa orang yang terhilang bukan saja mereka yang ada di luar gereja tetapi mereka yang ada di dalam gereja. Seperti anak sulung yang tidak seperasaan dan tidak sepikiran dengan ayahnya adalah anak terhilang. Hati si sulung tidak diserahkan kepada ayahnya (Luk.15:28-31). Si sulung tidak mengerti pikiran dan perasaan ayahnya. Ia tidak sealiran dengan ayahnya. Ia selalu bersama-sama dengan ayahnya tetapi hati dan perasaannya tidak menyatu dengan sang ayah. Ini menjadi gambaran kehidupan orang Kristen yang bergereja tetapi hatinya mencintai dunia, sehingga tidak bisa sepikiran dan seperasaan dengan Bapa. Ketika Tuhan berkata biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk. 9:60), kalimat ini bisa berarti orang-orang yang tidak diperhitungkan Tuhan karena tidak sepikiran dan tidak seperasaan dengan Tuhan. Mereka dipandang Tuhan sebagai pribadi tidak dapat dipercayai untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Sebaliknya yang dianggap sebagai “orang-orang hidup” adalah mereka yang diperhitungkan Tuhan untuk dapat menyelamatkan jiwa-jiwa masuk ke dalam kerajaan Surga. Mereka adalah orang-orang yang menguburkan orang hidup ke dalam kerajaan Surga. Orang mati yang dimaksud Tuhan adalah orang yang tidak bisa diajak Tuhan sepenanggungan. Ia memikirkan dirinya sendiri dan hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tidak menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Ketika Tuhan bertanya kepada Petrus, apakah ia mengasihi-Nya, pertanyaan itu sebenarnya juga bisa berarti apakah Petrus mau menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Kedekatan Petrus kepada Tuhan dan janji kesediaannya ikut Tuhan ternyata hanya sebuah hiasan bibir. Hati Petrus belum diserahkan kepada Tuhan. Ketika hati Petrus sudah diserahkan kepada Tuhan, maka ia rela menyerahkan tangannya dan dibawa ke mana ia tidak suka. Dengan demikian ia benar-benar memuliakan Tuhan (Yoh. 21:15-19).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.