24. MENGATUR TUHAN

ORANG PERCAYA tidak boleh berlaku licik terhadap Tuhan, seakan-akan dengan menyatakan bahwa dirinya percaya kepada Allah maka Allah berkewajiban untuk memeliharanya dan melakukan segala sesuatu yang menjadi permintaan umat. Sering tanpa disadari, banyak orang Kristen yang menyatakan percaya kepada Allah hanya supaya apa yang dipandang sebagai kebutuhannya dipenuhi oleh Allah dan keinginannya dituruti. Seakan-akan orang Kristen tersebut mau berkata: “Aku sudah percaya kepada-Mu ya Tuhan, maka penuhilah kebutuhanku”. Orang percaya tidak dipanggil untuk memercayai kekuatan Allah dan kebaikan-Nya, dimana sebagai imbalan Allah akan memenuhi segala kebutuhannya. Lebih konyol lagi kalau orang berpikir bahwa percayanya kepada Tuhan dapat mengatur Tuhan, seakan-akan percayanya bisa menjadi “remote” untuk mengatur dan mengontrol Tuhan. Mereka berpikir bahwa dengan percaya tersebut segala sesuatu bisa terjadi, terutama berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Itulah sebabnya sering diajarkan dan dianjurkan untuk menguatkan percaya atau berani percaya terhadap Tuhan demi apa yang mereka inginkan dapat terwujud. Dari pengertian ini maka lahirlah gagasan positive thinking yang menggantikan iman yang murni. Positive thinking berorientasi pada keyakinan terhadap terwujudnya suatu cita-cita atau keinginan diri sendiri, tetapi iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah guna memenuhi rencana-Nya. Hal ini sungguh sangat bertolak belakang. Positive thinking menempatkan Tuhan sebagai hamba, tetapi iman meletakkan umat sebagai hamba bagi Tuhan Sang Majikan Agung.

Banyak ajaran yang mengesankan bahwa yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah sikap percaya umat terhadap kuasa dan kebaikan Tuhan. Mereka mengira Allah menuntut umat untuk memenuhinya yaitu umat memercayai kuasa dan kebaikan Allah. Kalau umat sudah berani percaya kuasa dan kebaikan Allah maka Allah akan “terlena” dan menuruti apa yang diinginkan oleh umat tersebut. Seakan-akan dengan percaya tersebut umat bisa menyandera Allah sehingga Allah tidak berdaya menolak permintaan dan keinginan umat. Dengan pemahaman di atas ini seakan-akan Allah tidak memiliki kepribadian dan integritas. Padahal Allah memiliki tatanan di dalam diri-Nya. Ia tidak akan bertindak sesuatu yang bertentangan dengan hakikat-Nya yang kudus, adil, bijaksana dan lain sebagainya yang benar. Sikap yang salah tersebut sebenarnya merupakan bentuk pelecehan terhadap Allah. Tetapi ironisnya justru dengan percaya umat merasa sedang memuliakan Allah. Percayanya kepada Allah mereka pandang sebagai bisa menyukakan hati-Nya.

Allah adalah Allah yang baik, entah dipercayai atau tidak. Ia juga berkuasa, entah dipercayai atau tidak. Dalam hal ini hendaknya umat tidak berpikir bahwa Allah menghendaki nama-Nya dimuliakan melalui peragaan kekuatan Allah. Memang pada zaman Perjanjian Lama -demi kepentingan rencana-Nya- Allah menunjukkan kekuatan kuasa-Nya, tetapi di zaman Perjanjian Baru umat dikehendaki untuk menampilkan karakter Allah guna menjadi saksi bagi Kristus. Allah tidak dapat disukakan dengan kepercayaan umat bahwa Ia Allah yang baik dan berkuasa. Sesungguhnya Bapa menghendaki agar orang percaya bertumbuh terus sebagai anak-anak Allah yang memiliki karakter seperti Bapa,1 mengerti kehendak dan rencana Allah serta memenuhinya. Inilah hal yang terutama dalam kehidupan. Jika orang percaya memenuhinya, maka orang tersebut pasti menjadi manusia seutuhnya seperti yang dirancang semula. Selanjutnya, ia pasti menjadi orang yang rajin bekerja, cerdas, tertib dan unggul dalam berbagai aspek hidup sesuai dengan bagian yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Orang-orang seperti inilah yang pantas menerima kelimpahan hidup. Kelimpahan hidup secara jasmani pun juga harus digunakan untuk kepentingan Kerajaan Allah.

1) Matius 5:48

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.