24. Kauchesis

ORANG PERCAYA HARUS harus membiasakan menghargai suara hai nuraninya. Kalau hati nurani berbicara atau menegur atas suatu tindakan yang salah, maka seseorang tidak boleh mengabaikan atau membiarkannya. Sikap tidak menghargai suara hati nurani ini akan membungkamkan suara hati nurani sehingga suara hati nurani menjadi lemah, sampai tidak terdengar lagi. Dalam hal ini suara hati nurani dapat dibungkam sehingga menjadi bisu. Bila hal ini terjadi maka suara lain yang akan mendominasi, yaitu suara yang tidak sesuai dengan suara Tuhan, yang akan bersuara dalam diri orang tersebut. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan pernyataan: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.1

Pada waktu kita memasuki saat teduh (doa), kita berdiam diri dan mulai mengoreksi segala perbuatan kita. Pada waktu itu sering nurani kita berbicara dengan sangat jelas. Hal ini harus dibiasakan sehingga kita peka mendengar suaranya. Pada waktu seseorang berkata “selidikilah aku Tuhan”, itu berarti ia harus mengasah hati nuraninya dengan kebenaran. Tanpa kebenaran Firman Tuhan yang cukup atau memadai yang dipahami, Tuhan tidak memiliki sarana untuk mengarahkannya kepada kesempurnaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak akan bisa secara permanen mendengar suara Tuhan tanpa mengerti kebenaran. Bagi orang yang tidak mendewasakan hati nuraninya dengan kebenaran Firman Tuhan dan yang tidak menghargai suara hati nurani yang murni, maka akal dan hati nuraninya menjadi rusak seperti yang dikatakan Titus dalam suratnya dalam Titus 1:15 “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.” Di sini terbukti bahwa suara hati nurani bisa rusak.

Terkait dengan fungsi hati nurani, Paulus menasihati jemaat dengan tulisannya dalam 2Korintus 1:12 yang tertulis: “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.” Kata “megahkan” dalam teks ini adalah kauchesis (καύχησις) yang artinya selain bangga (Ingg. pride, boasting), sesuatu yang dirasakan dalam perasaan (bisa enak atau tidak enak; boasting, in a good or a bad sense). Kata ini juga berarti rejoicing (senang karena sesuatu yang memuaskan). Dalam hal ini hati nurani akan memberikan perasaan bangga, senang dan puas atas suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang anak Tuhan. Seperti seorang guru yang melihat tindakan anak didiknya melakukan suatu prestasi kemudian memberikan pujian. Hal ini akan mendatangkan perasaan senang dan puas pada murid. Sebaliknya, kalau anak didiknya melakukan suatu tindakan yang dinilai salah, maka hal itu akan mendatangkan perasaan sedih (Ing. A bad sense).

Hati nurani memberikan pujian dan upah pada waktu seseorang melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebenaran Allah. Upah itu adalah perasaan puas, bahagia dan senang. Perasaan tersebut menjadi makanan jiwa yang membuat jiwa ketagihan bila tidak dipuaskan dengan upah itu. Inilah rezeki kehidupan anak-anak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan- Nya.”2 Kata makanan di sini dalam teks aslinya adalah broma yang menunjuk daging makanan yang halal. Kata lain untuk daging adalah sarkos menunjuk kepada keinginan daging. Bukan daging makanan. Sedangkan dalam teks Yunani untuk makanan adalah trophe.

1) Matius 6:22-23; 2) Yohanes 4:34

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.