24. Integritas Dan Idealis Yang Sempurna

PEMAHAMAN SESEORANG MENGENAI “sosok Bapa dan Tuhan” sangat memengaruhi kualitas hidupnya. Kalau pemahamannya salah, maka kualitas hidupnya pasti rendah. Sebaliknya orang yang memiliki pemahaman yang benar mengenai Tuhan kualitas hidupnya pasti tinggi. Jadi betapa pentingnya pemahaman seseorang mengenai sosok Bapa dan Tuhan itu. Selama ini banyak orang yang membayangkan bahwa Bapa dan Tuhan sekedar sosok yang Mahakuasa, Mahabaik yang kasih-Nya melimpah bagi manusia. Mereka tidak memahami bahwa Allah adalah pribadi yang berintegritas dan beridealisme sempurna. Tidak ada sesuatu atau seseorang yang dapat mengatur Tuhan, sebab Tuhan diatur oleh diri-Nya sendiri. Di dalam Tuhan ada tatanan yang juga merupakan hakikat-Nya yang tidak pernah berubah. Tuhan selalu bertindak berdasarkan hakikat atau tatanan-Nya tersebut. Hal ini adalah sesuatu yang mendahsyatkan. Keberadaan Bapa dan Tuhan tersebut dapat membangkitkan kegentaran dan kengerian di dalam diri orang yang memahaminya.

Dengan integritas dan idealisme yang sempurna Allah bertindak tanpa kompromi. Ia penuh kasih tetapi Ia juga pribadi yang tegas. Ia panjang sabar tetapi kesabaran-Nya juga terbatas atau ada batasnya. Ketika batas kesabaran Tuhan terlewati maka dengan tegas Ia bisa berkata: “Aku tidak kenal kamu, enyahlah dari hadapan-Ku kamu semua pembuat kejahatan atau yang tidak melakukan kehendak Bapa”.1 Ketegasan Tuhan seperti ini yang tidak diajarkan secara proporsional sehingga pengenalan banyak orang mengenai Tuhan tidak seimbang. Firman Tuhan mengatakan: Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.2 Kegentaran dan kengerian inilah yang seharusnya membangun “takut akan Tuhan” sejak kita hidup di dunia ini. Tentu saja takut akan Allah yang didasarkan pada hati yang mengasihi dan menghormati Dia. Hal inilah yang membuat seseorang dapat memperlakukan Tuhan secara pantas di sepanjang hidupnya di bumi ini. Orang yang memperlakukan Tuhan secara pantas sejak hidup di dunia ini akan menyaksikan dan mengalami kedahsyatan Bapa dan Tuhan nanti di hari penghakiman dan menjadi kegembiraan dan bahagia di kekekalan. Tetapi mereka yang tidak memperlakukan Allah secara pantas, maka kedahsyatan Allah akan menjadi sesuatu yang mengerikan yang disertai dengan ratap tangis dan kertak gigi di api kekal dimana ia terpisah dari hadirat Allah selamanya.3

Dengan cara bagaimanakah seseorang memperlakukan Allah atau Bapa dan Tuhan Yesus secara tidak pantas? Ketika seseorang menganggap Tuhan tidak ada, sehingga ia sembarangan dalam bertindak, sembarangan mengucapkan kata, apa yang ingin dimiliki ia berusaha memilikinya, kemana hatinya mau melangkah ia melangkah; pada prinsipnya suka-suka sendiri tanpa menjaga perasaan Tuhan. Orang-orang seperti ini tanpa sadar menganggap Bapa dan Tuhan tidak berurusan dengan dirinya atau Bapa dan Tuhan hanya berurusan dengan dirinya pada waktu di gereja atau acara liturgi. Cara berpikir seperti ini adalah cara berpikir agama-agama kafir yang menyembah berbagai dewa, dimana mereka berurusan dengan dewa atau ilah yang mereka sembah hanya pada waktu ritual. Sejatinya Allah adalah Allah yang memiliki integritas dan idealisme yang sempurna. Fakta keberadaan Allah inilah yang mestinya membuat kita berhati-hati dalam seluruh tindakan perbuatan kita, sebab segala sesuatu yang kita lakukan memiliki keterkaitan dengan Allah sebagai Bapa dan Yesus Kristus sebagai Tuhan kita. Kalau kita menjaga perasaan Allah, maka kita dapat menyukakan hati-Nya. Memang manusia diciptakan hanya untuk menyukakan hati Allah. Prinsip ini tidak boleh dilanggar, jika orang melanggarnya yaitu mencari kesukaan bagi dirinya sendiri, maka ia tidak pernah memahami hidup kekristenan yang sejati.

1) Matius 7:23 2) Roma 11:22 3) Matius 8:12; Matius 13:42

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.