24 Desember 2014: Iman Yang Menyelamatkan

Dibenarkan karena iman adalah kunci penting dalam keselamatan. Tetapi masalahnya adalah apakah iman itu? Tentu saja untuk menjawab apakah iman itu harus dihubungan dengan Abraham yang disebut sebagai bapa orang percaya. Bila kita mengamati kehidupan Abraham yang menjadi teladan iman kita, dimana orang percaya diajar untuk memiliki iman seperti itu, kita dapat menemukan iman yang benar. Abraham memiliki respon yang positif dan kuat terhadap kehendak Allah (Kej. 15:6). Alkitab mencatat bahwa Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah. Abraham disebut sebagai sahabat Tuhan dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, setelah ia menunjukkan imannya dengan perbuatannya (Yak. 2:21-23). Respon Abraham tampak nyata dari sejak ia keluar dari Urkasdim. Itulah awal dari perjalanan iman Abraham. Dari langkahnya meninggalkan Urkasdim sampai ia menaati perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai korban bakaran, tampak nyata responnya terhadap Tuhan. Kalau Abraham menolak meninggalkan Urkasdim, ia tidak pernah menjadi nenek moyang umat pilihan Allah dan dinyatakan sebagai bapa orang percaya. Tindakan Abraham itulah iman yang membuatnya dibenarkan. Dengan demikian iman bukan sekedar aktivitas pikiran. Iman yang hanya aktivitas pikiran adalah iman imaginer atau iman fantasi. Itu adalah psedo iman atau iman palsu. Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman padahal iman yang mereka miliki adalah iman palsu. Iman palsu tersebut bukanlah iman yang menyelamatkan. Ironinya, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki keselamatan dengan iman palsu tersebut. Respon di sini juga bukan hanya sebuah persetujuan pikiran bahwa kita setuju dengan apa yang Tuhan katakan, tetapi respon adalah tindakan konkrit yang menunjukkan percaya kepada-Nya. Apakah Abraham melakukan semua perintah dan kehendak-Nya karena Tuhan yang menggerakkan secara mutlak, sehingga sekalipun Abraham tidak berminat melakukannya pun ia akan tetap akan melakukannya, sebab Tuhan menghendaki? Tentu tidak! Abraham memang memilih untuk taat. Itulah sebabnya ia disebut sebagai sahabat Allah. Ia bukan sahabat paksaan atau “sahabat buatan” karena terpaksa atau karena tekanan, tetapi dengan rela Abraham mau menjadi sahabat Tuhan dengan segala harga yang harus dibayarnya. Kalau Abraham menjadi sahabat Allah karena memang “dibuat oleh Dia”, maka Abraham bukan sahabat sejati. Respon bukanlah ucapan bibir percaya atau setuju dengan apa yang diberitakan, tetapi iman juga dinyatakan dalam tindakan konkrit. Yakobus menegaskan: ”…oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak. 2:17-26). Iman sempurna melalui tindakan perbuatan nyata selama bertahun-tahun, sampai membangun sebuah iman yang murni. Tindakan-tindakan inilah yang sebenarnya disebut sebagai respon. Dari pernyataan tersebut ternyata ada hubungan timbal balik antara iman dan perbuatan. Dengan perbuatan melakukan kehendak Tuhan maka imannya menjadi sempurna. Respon Abraham terhadap panggilan Tuahan bukan hanya satu tindakan saja dan dalam satu kali peristiwa, juga tidak sesaat saja. Respon haruslah tindakan terus menerus, sebuah akumulasi (penumpukan atau pengumpulan) respon yang membawa seseorang kepada tingkat percaya yang murni, seperti yang dimiliki Abraham. Sejak Abraham keluar dari Urkasdim sampai hari tuanya, dimana ia harus mengorbankan Ishak, adalah rentetan pergumulan yang melaluinya iman Abraham disempurnakan. Oleh perbuatan-perbuatannya imannya menjadi sempurna.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.