23 September 2014: Menjadikan Dia Cukup Bagi Kita

Sesungguhnya tidak mudah untuk menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan, sebab suasana jiwa kita sejak kecil sudah terbiasa dipengaruhi oleh suasana dunia sekitar dengan berbagai fasilitasnya. Kebahagiaan hampir semua manusia pada umumnya sudah terbiasa ditopang oleh suasana sekitar yang nyaman dan aman oleh kehadiran orang-orang yang membahagiakan serta fasilitas materi atau kekayaan dunia. Sehingga manusia terkunci oleh pola hidup seperti itu. Hal ini sudah terjadi belasan bahkan sampai puluhan tahun, jadi cita rasa jiwa sudah terlanjur rusak. Sama seperti kalau lidah seseorang (cita rasa lidah) sudah terbiasa dengan jenis masakan atau makanan tertentu maka ia akan terikat dengan jenis masakan atau makanan tersebut pula.

Dunia kita hari ini yang setiap hari dibanjiri iklan-iklan dengan seribu satu macam barang yang ditawarkan, hal tersebut membuat manusia akhirnya menjadi konsumtif. Banyak orang Kristen dibuat selalu tidak merasa puas dengan apa yang ada, selalu berusaha memiliki apa yang orang lain mi­liki. Mereka tidak pernah berkata Yesus cukup bagiku apalagi menjadikan Tuhan segalanya. Sehingga mereka tidak lagi memikirkan masa depan kekekalan sama sekali. Pada umumnya seseorang berpikir selama masih bisa mengumpulkan harta sebanyak-banyak di bumi, apa salahnya mengumpul­kannya. Mengapa tidak memanfaatkan kesempatan yang terbatas ini untuk menikmati dunia, toh hidup hanya sekali. Demikianlah filosofinya. Dengan cara berpikir yang salah tersebut banyak orang semakin menggantungkan suasana jiwa mereka bukan pada Tuhan, sehingga mereka memberhalakan banyak hal. Pada hal hidup manusia tidak tergantung dari dunia ini, yaitu segala fasilitas kekayaan dunia (Luk. 15:12). Lagi pula suatu hari nanti setiap kita akan pergi sendiri tanpa apa-apa dan siapa-siapa, sebagaimana kita juga datang sendiri (Ayub 1:21).

Hal ini kebalikannya dengan orang- orang yang mengenal kebenaran, prinsipnya adalah selagi masih hidup di bumi harus mencari perkara-perkara di atas. Hal ini sama dengan mengikat persahabatan (dengan Tuhan) dengan menggunakan kekayaan atau semua potensi yang bisa kita miliki (Luk. 16:9). Sesungguhnya tingkat kekristenan seperti ini adalah tingkat Kekristenan yang luar biasa. Ini berarti seseorang sudah sampai level menjadikan Tuhan sebagai segalanya dalam hidup ini.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.