23 Oktober 2014: Berbalik Dengan Dasar Yang Benar

Hati yang berbalik kepada Tuhan diawali oleh kesadaran betapa berbedanya keadaan orang yang dekat dengan bapa dan yang jauh dari bapanya (Luk. 15:17). Hal ini menjadi gambaran bagi kehidupan umat pilihan Allah, baik bangsa Israel maupun orang percaya. Sering bangsa Israel meninggalkan Tuhan dan berbakti kepada Allah lain, kemudian Tuhan menghukum mereka dengan keadaan yang sulit. Mereka disadarkan betapa sengsara keadaan hidup orang yang jauh dari Yahweh dan betapa nikmatnya keadaan hidup orang yang ada dalam ketaatan kepada Yahweh. Kemudian mereka bertobat karena keadaan yang sukar tersebut. Di sini orang Israel berbalik kepada Tuhan karena kesulitan jasmani yang didatangkan Tuhan. Berbeda dengan orang percaya, seharusnya orang percaya berbalik kepada Tuhan karena masalah kerohanian atau soal keselamatan. Jadi, dalam konteks hidup umat Perjanjian Baru perbedaan tersebut bukan pada berkat jasmani, tetapi menyadari bahwa tidak hidup dalam persekutuan dengan Bapa adalah penderitaan hati. Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru kalau pertobatan bertolak dari masalah jasmani maka pertobatannya belum benar. Pertobatan yang benar akan disertai dengan kesadaran bahwa dirinya telah melukai hati Tuhan dan sesamanya sehingga merasa pedih hati (Luk.15:18). Hendaknya kita tidak merasa bahwa kita tidak melukai hati Tuhan dan orang lain hanya karena tidak melakukan pelanggaran umum dan nyata-nyata merugikan sesama. Dalam kisah anak yang terhilang, memang tidak secara langsung si sulung menyakiti hati bapa dan adiknya tetapi sebenarnya si sulung sangat melukai hati bapanya dan si bungsu, dengan sikap si sulung yang tidak suka adiknya pulang dan diperlakukan ayahnya begitu istimewa (Luk. 15:27). Penjelasan di atas ini membuka pengertian kita bahwa pertobatan orang percaya harus berangkat dari kesadaran diri sendiri, bahwa keadaan jauh dari bapa sangat menyakitkan dan dirinya telah melukai hati Tuhan dan sesama. Kita harus menyadari betapa buruknya keadaan kita ini di hadapan Tuhan, sampai seharusnya kita merasa tidak layak menjadi anak Allah (Luk. 15:19,21). Harus disadari pula bahwa ketika kita tidak memiliki moral seperti Bapa kita belum tidak layak menjadi anak-Nya. Ketika moral kita belum seperti Bapa berarti kita masih belum menyerahkan hati sepenuhnya kepada Bapa. Kesadaran ini yang akan memicu kita berjuang untuk menyerahkan hati kepada Tuhan dan bertumbuh sempurna seperti Bapa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.