23 Desember 2014: Merespon Kasih Karunia

Meresponi keselamatan atau anugerah Allah adalah bagian orang percaya. Jika orang percaya mengerjakan dengan sungguh-sungguh maka Allah akan membantu mengerjakan dalam arti kooperatif atau membantu. Bagaimana seseorang bisa dibantu kalau ia tidak mengerjakannya sama sekali. Di sini letak tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh manusia. Memenuhi tanggung jawab ini bukan sebagai jasa dimana seseorang bisa membanggakan diri seakan-akan dengan kemampuannya sendiri ia bisa meraih keselamatan. Keselamatan adalah anugerah, titik. Firman Tuhan jelas sekali, bahwa kita harus menaruh pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Kita lah yang harus berpikir dan berperasan seperti Kristus dengan sengaja dan sadar. Dalam hal ini sangatlah tidak mungkin kalau Tuhan yang menaruh pikiran dan perasaan-Nya. Salah satu hakikat Allah yang tidak bisa dibantah adalah bahwa Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Dalam hal ini Tuhan tidak akan mengintervensi kebebasan manusia untuk bertindak. Proses memiliki pikiran dan perasaan Kristus bukanlah proses otomatis dalam waktu singkat. Juga bukan sebuah peristiwa yang bersifat adikodrati dan mistis, tetapi melalui sebuah proses natural yang bertahap serta membutuhkan waktu panjang. Proses ini berlangsung melalui pembaharuan pikiran terus menerus oleh Firman Tuhan yang murni. Kalau seseorang bersedia menaruh pikiran dan perasaan Tuhan Yesus melalui ketekunannya hidup berpadanan dengan Injil (Flp. 1:27), maka Tuhan yang akan mengerjakan di dalam diri orang tersebut baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya, artinya Tuhan memberi daya (Yun. energon; ἐνεργῶν)(Fil 2:13). Harus diperhatikan bahwa seseorang harus terlebih dahulu mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar artinya berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi seperti Tuhan Yesus. Dengan takut dan gentar menunjukkan kesadarannya bahwa untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah hal yang sangat sulit, tidak bisa terwujud dengan mudah. Memiliki pikiran dan perasaan Kristus artinya segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kehendak Bapa. Ini sama dengan menjadi sempurna. Adalah bodoh dan tidak realitis kalau seseorang berpikir bahwa dengan sendirinya Tuhan akan mengerjakan sehingga seseorang akan dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Kalau Tuhan bertindak demikian berarti manusia menjadi robot dan manusia tidak perlu bertanggung jawab atas hidupnya. Orang percaya harus memahami bahwa kematian Tuhan Yesus yang menyediakan anugerah keselamatan menempatkan manusia yang mau percaya kepada-Nya memiliki target untuk menjadi sempurna. Jadi, kalau seseorang mau menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat ia harus menaruh pikiran dan perasaan Kristus. Menerima Dia bukan hanya mendapat keselamatan secara otomatis, tetapi harus berjuang untuk mewujudkan keselamatan itu. Manusia memberi respon, tetapi di pihak Tuhan melakukan intervensi, karena Allah lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:12-13). Namun bagaimana pun dan sekecil apa pun, tentu ada respon manusia yang menunjukkan kesediaan individu menerima anugerah Tuhan. Sebenarnya anugerah sudah sangat cukup, tidak perlu ditambah lagi dengan apa pun. Manusia dengan kemampuannya sendiri tidak akan dapat menyelamatkan dirinya. Hanya oleh anugerah penebusan Tuhan Yesus di kayu salib kita dapat diselamatkan, tetapi tanpa menyambutnya (respon) maka tidak ada keselamatan dalam hidup seseorang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.