23. Dampak Pertimbangan Dalam Kekekalan

KALAU AKIBAT PERTIMBANGAN salah yang dilakukan seseorang hanya dituai dalam hidup selama di bumi ini, maka hal itu bukanlah masalah besar, sebab masa hidup seseorang tidaklah panjang. Tetapi kalau akibat pertimbangan yang salah harus ditanggung dalam kekekalan, maka hal ini menjadi masalah yang benar-benar mengerikan. Ketika seseorang harus menuai apa yang ditaburnya selama hidup di dunia dalam kekekalan nanti, mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam Wahyu 20:12, tersurat bahwa setiap orang akan dihakimi menurut hukum yang dipahaminya. Kata “semua kitab” menunjukkan ukuran moral yang dipahami masing-masing bangsa atau sebuah masyarakat. Bila nama mereka tidak didapati di dalam kitab kehidupan, yang berarti mereka tidak taat kepada hukum, maka mereka akan dibuang ke dalam lautan api. Dengan demikian tidak seorang pun yang luput dari buah pertimbangan yang menghasilkan perbuatan yang telah dilakukan. Itulah sebabnya Paulus berusaha untuk berkenan agar ia tidak tertolak di hadapan Tuhan.1 Kalau seorang sekelas Paulus harus berjuang untuk perkenan Tuhan supaya tidak tertolak, apalagi kita yang masih sangat jauh belum sempurna dibanding rasul Paulus.

Kalau kematian membuat manusia kehilangan kesadaran maka manusia tidak perlu menjaga hidupnya atau berhati-hati dalam pertimbangan dan perbuatannya, sebab akhirnya mati dan semua kesadaran hilang. Tetapi ternyata ada kehidupan di balik kematian. Semua orang akan dibangkitkan, sebagian menerima hidup kekal dan sebagian menerima kehinaan kekal.2 Kalau manusia tidak dibangkitkan bukan masalah tetapi kalau manusia harus dibangkitkan dan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, maka ini menjadi masalah yang sangat besar. Banyak orang karena tidak belajar kebenaran mereka menganggap sepele kedahsyatan kekekalan. Hidup mereka menjadi ceroboh tanpa pertimbangan yang cerdas dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Paulus mengatakan: Kalau hanya berdasarkan pertimbanganpertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.3 Kalimat “Kalau berdasarkan pertimbangan manusia” dalam teks aslinya adalah ei kata anthropon (ε κατ νθρωπον). Dalam bahasa Inggris versi King James diterjemahkan If after the manner of men. Kalimat ini berarti “jika menuruti cara berpikir atau pertimbangan manusia”. Paulus adalah seorang anak Tuhan yang memiliki cara berpikir dan pertimbangan yang tidak sama dengan manusia di sekitarnya. Sehingga ia tidak terbawa oleh cara hidup manusia di sekitarnya. Kalau Paulus memiliki pertimbangan sama seperti manusia lain maka ia sudah berjuang melawan binatang buas di Efesus artinya ia memilih menjadi gladiator melawan binatang buas di arena adu manusia dengan binatang yang menjadi tradisi orang zaman itu. Semua itu dilakukan hanya untuk mencari kehormatan dan sanjungan manusia. Melawan binatang buas di Efesus juga berarti bersaing dengan orang-orang serakah di Efesus yang hidupnya hanya untuk mengumpulkan kekayaan. Orang-orang serakah yang materialisme ini digambarkan Paulus sebagai binatang buas.

Oleh karena pertimbangan hidup seseorang menentukan nasib kekalnya maka betapa harus benar dan tepat atau akuratnya pertimbangan kita. Pertimbangan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh keluarga, pendidikan, pergaulan, gereja dan segala sesuatu yang memengaruhinya. Itulah sebabnya kesempatan yang sisa harus digunakan untuk memenuhi pikiran dengan kebenaran agar pertimbangan kita tidak berdasarkan cara berpikir manusia di sekitar kita tetapi berdasarkan pikiran Tuhan. Cara berpikir harus diubah melalui pemberitaan kebenaran Firman Tuhan dan pengalaman hidup bersama dengan Roh Kudus setiap hari. Dengan demikian mengajar Firman yang benar adalah proyek penyelamatan yang cerdas dan tepat.

1) 2Korintus 5:9-10; 1Korintus 9:27 2) Daniel 12:2 3) 1Korintus 15:32

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.