22 September 2014: Bersukacita Karena Tuhan Adalah Perintah

Dengan siapa seseorang merasa hidupnya bahagia atau bersukacita maka kepadanya jiwanya terikat, kepada sesuatu atau seseorang itulah hidupnya bergantung. Ini berarti sesuatu atau seseorang itulah tuhannya yang kepadanya hidupnya diarahkan dan mengabdi. Kalau seseorang terikat dengan kekayaan materi, maka Tuhannya adalah materi tersebut. Kalau seseorang terikat pada seseorang apakah itu pasangan hidup, anak, sahabat dan lain sebagainya yang seakan tanpa orang tersebut hidup kita tidak lengkap dan tidak bahagia, maka dia menjadi tuhan atau berhala. Hal ini bukan berarti kita boleh membuang mereka. Tuhan menghendaki agar keterikatan kita dengan Tuhan lebih dari keterikatan kita dengan siapa pun dan apapun. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk. 14:26).

Oleh sebab itu kita tidak boleh bersukacita di dalam apa pun dan siapa pun selain kepada Tuhan. Tidak heran kalau hal bersukacita di dalam Tuhan merupakan perintah atau semacam himbauan atau panggilan (Flp. 4:4). Demikian pula Firman Tuhan di dalam Mazmur 37: 4, tertulis: bergembiralah karena Tuhan. Apa maksud ayat ini? Ayat hendak menunjukkan bahwa bersukacita karena Tuhan atau yang sama dengan menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan adalah sebuah perintah. Sebagai umat Tuhan kita harus berani mensejajarkan perintah untuk bersukacita karena atau di dalam Tuhan dengan perintah lain.

Tuhan juga berfirman: bergembiralah karena Tuhan itu dalam Mazmur 37:4 ini. Ayat ini tidak bermaksud agar kita bersukacita di dalam Tuhan demi supaya Tuhan memberi apa yang menjadi keinginan hati kita. Jika demikian maka sukacita kita karena Dia tidak tulus atau tidak natural; berarti munafik. Maksud ayat tersebut adalah agar hati kita tidak memberhalakan sesuatu atau seseorang. Kalau selama ini kita menggantungkan sukacita kita bukan kepada Tuhan, tetapi kepada hal-hal lain seperti harta, kehormatan, penampilan, pangkat, fasilitas dunia dan lain sebagainya, tetapi sekarang kita harus mulai belajar dengan sungguh-sungguh menggantungkan sukacita kita kepada Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.