22. SEGENAP ASPEK

SELAMA INI bila kita berbicara mengenai kehidupan orang percaya yang tidak bercacat dan tidak bercela, kita diarahkan kepada orang-orang yang dianggap sebagai orang suci dan orang saleh. Biasanya pula selalu dikaitkan dengan kegiatan di sekitar keagamaan. Jika ukuran kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela adalah kehidupan orang yang meninggalkan kehidupan wajar dan berbiara, betapa mudahnya hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kondisi mereka yang hidup dalam biara adalah kehidupan yang lebih jauh dari pergumulan hidup wajar yang dialami mereka yang ada di tengah buasnya dunia, di luar tembok biara. Hidup tidak bercacat dan tidak bercela bukan hanya menyangkut masalah-masalah rohani yang selalu dikaitkan dengan moral. Tetapi bertalian dengan berbagai aspek hidup ini tanpa batas. Kesalahan memandang hal tersebut menciptakan strata dalam kehidupan orang percaya. Ada kelompok orang suci dan kelompok lain yang tidak berhak menyandang sebagai orang suci. Padahal Firman Tuhan menyatakan bahwa semua orang percaya yang menerima panggilan sebagai orang percaya yang benar adalah bangsa yang kudus umat kepunyaan Allah sendiri.1 Kebodohan ini juga akan membangun mental blok dalam kehidupan orang percaya, seakan-akan hanya mereka yang dikelompokkan sebagai orang suci yang dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kesalahan ini juga membangun sikap permisif. Kalau orang suci tidak boleh berbuat kesalahan, sementara sebagai jemaat biasa tidak terlalu dituntut untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela.

Kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela harus dikaitkan dengan segenap aspek hidup kita di tengah pergumulan menghadapi dunia dan manusia lain dalam kehidupan konkrit. Ini berarti menyangkut moral, etos kerja yaitu kerajinan dan ketekunan bekerja, pola hidup, pola makan, tutur kata dalam berbicara dan bercanda, penggunaan waktu, ketertiban mengatur waktu, ketepatan waktu dalam menghadiri sebuah pertemuan, kesetiaan memenuhi janji, cara berpakaian, kebersihan dan pemeliharaan tubuh dan segala aspek hidup lainnya. Dalam segala aspek hidupnya tidak ditemukan salah dan kurangnya. Hal ini menyangkut perkara-perkara kecil sampai perkara-perkara besar. Justru dari perkara-perkara kecil nampak kebenaran seseorang dalam perkara yang besar. Untuk itu seseorang yang menginginkan dengan benar kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela akan berlatih setiap hari. Dan setiap malam selalu memeriksa, apakah sepanjang hari telah melukis gambar yang indah melalui segala perbuatannya, atau belum?

Kehidupan seseorang yang tidak bercacat dan tidak bercela pasti membawa keteduhan bagi semua orang yang dijumpainya. Sejatinya, semua ini menunjuk keagungan seorang anak Allah yang benar-benar bermental surgawi. Kehidupan orang yang tidak bercacat dan tidak bercela sangat berpotensi menjadi saksi bagi Tuhan. Dari kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, seorang anak Tuhan dapat membuktikan bahwa dua ribu tahun yang lalu pernah hadir seorang pria yang mengaku Anak Allah (dan memang Dia adalah Anak Allah), yang menjadi Juru Selamat dunia ini. Perbuatan dan seluruh gaya hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela berpotensi menjadi saksi Kristus yang sangat efektif.

Orang yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela memiliki keyakinan berdasarkan keberadaan hidupnya setiap hari bahwa dirinya layak masuk rumah Bapa yang Mahakudus dan tinggal bersama dengan orang-orang saleh Tuhan yang pernah hidup di bumi ini. Dalam hal ini setiap orang dapat mengukur dirinya, apakah ia layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga atau tidak. Sehingga keyakinannya diterima di rumah Bapa bukan hanya berdasarkan keyakinan dalam pikirannya, tetapi fakta kehidupan yang dijalani setiap hari.

1) 1Petrus 2:9

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.