22. Pertimbangan Manusia

SANGAT SEDIKIT ORANG yang menyadari betapa hebat menjadi makhluk yang disebut manusia, sebab hanya manusia mahluk hidup yang memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu dalam keputusan dan tindakan-tindakannya. Itulah sebabnya keberadaan manusia seperti Penciptanya sendiri yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Dengan keberadaan yang luar biasa ini manusia diberi tanggung jawab untuk memikul semua perbuatan dari hasil pertimbangannya. Tidak mungkin dengan keberadaan yang luar biasa ini manusia hidup di bawah hukum takdir, dimana manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan baginya. Yang benar adalah manusia menentukan nasib atau keadaannya sendiri berdasarkan pertimbangannya. Jadi apa yang dimiliki dan dialami seseorang adalah buah dari pertimbangan hidup masing-masing individu. Dalam hal ini betapa dahsyatnya hukum tabur tuai itu, sebab semua yang dilakukan seseorang pasti akan dituainya.1 Dan semua yang dilakukan seseorang itu hasil dari pertimbangannya. Dalam hal ini pertimbangan seseorang adalah motor dari semua tindakan seseorang.

Belajar dari kejatuhan Lusifer, kita peroleh pelajaran yang mahal. Keadaan Iblis atau Lusifer yang jatuh adalah hasil dari pertimbangannya, bukan karena faktor di luar dirinya. Kejatuhan Lusifer artinya Lusifer memberontak kepada Allah dengan keinginannya untuk mendirikan takhtanya sendiri.2 Juga malaikat-malaikat yang diciptakan Tuhan adalah pribadi yang memiliki kehendak bebas. Malaikat memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan. Malaikat bukanlah seperti benda yang dapat diremote kontrol guna mengatur dan menguasainya. Hal ini terbukti dengan adanya malaikat-malaikat yang ikut terseret bersama Lusifer untuk memberontak kepada Allah, Khaliknya. Dalam kitab Ayub dikatakan bahwa malaikat juga bisa “tersesat”.3 Kata tersesat dalam teks aslinya adalah toholah ( תָּהֳלָה ) yang artinya bodoh atau tolol. Kebodohan ini menunjuk kepada pertimbangan yang salah. Akibat pemberontakan tersebut mereka tersingkir dari hadapan Tuhan selamanya.

Demikian pula dengan keadaan Adam dan Hawa keluar dari taman Eden juga buah dari pertimbangannya.4 Tentu saja Tuhan tidak menentukan atau mengupayakan kejatuhan Adam. Tuhan memberi peringatan kepada Adam untuk tidak makan buah yang dilarang untuk dikonsumsi tetapi Adam sendiri yang harus menentukan apakah ia makan buah itu atau tidak. Kitab Kejadian mencatat bagaimana Hawa bergumul sebelum memetik dan makan buah yang dilarang Tuhan tersebut: Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Ketika Hawa melihat bahwa bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula menarik hati karena memberi pengertian, pertimbangan Hawa menjadi salah.5 Ia melupakan Firman Tuhan yang seharusnya dasar pertimbangan yang diajarkan oleh Tuhan bahwa pada hari mereka makan buah itu mereka akan mati.6

Dengan demikian sangat jelaslah betapa besar peran pertimbangan seseorang dalam menentukan nasib atau takdirnya sendiri. Masa depan seseorang dan seluruh keberadaan dalam hidupnya di kemudian hari ditentukan oleh ketepatan atau kecerdasan pertimbangannya. Banyak orang mengalami keruwetan-keruwetan dan kesukaran-kesukaran hidup karena pertimbangannya yang salah. Kita harus jujur, bahwa keadaan kita yang buruk dan kegagalan-kegagalannya sering disebabkan oleh karena pertimbangan yang tidak tepat di masa lalu. Oleh sebab itu betapa pentingnya seseorang belajar kebenaran Firman Tuhan yang dapat mencerdaskan pikirannya sehingga dapat terhindarkan dari keputusan yang salah. Kebenaran Firman Tuhan juga memberikan kepekaan seseorang menangkap suara Tuhan melalui Roh-Nya.

1) Galatia 6:7 2) Yesaya 14:12-14 3) Ayub 4:18 4) Kejadian 3:1-7 5) Kejadian 3:5 6) Kejadian 2:17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.