22 Oktober 2014: Menyerahkan Hati

Pernahkah kita berpikir mengapa bapa yang kehilangan anak bungsu yang ditulis dalam Injil Lukas 15:11-32 tidak berusaha pergi mencari anaknya? Apakah ia tidak mengasihi anaknya, apakah ia rela anaknya terhilang? Ataukah bapa tersebut tidak berdaya menemukan anaknya? Tentu saja sang bapa tidak menghendaki anaknya terhilang dan ia juga memiliki kemampuan untuk menemukan anaknya, sebab ia memiliki kekayaan dan kekuasaan serta banyak hamba-hamba untuk segera dapat menemukan anak bungsunya, tetapi ia tidak melakukannya, mengapa? Sebab adalah percuma jika ia menemukan anaknya tetapi ia tidak menemukan hatinya. Hati anaknya telah terpaut kepada kekayaan ayahnya dari pada terpaut kepada ayahnya sendiri. Anak bungsu tidak memiliki hati yang diserahkan kepada ayahnya, si bungsu menyerahkan hatinya kepada harta ayahnya. Anak seperti ini dianggap oleh ayahnya sudah mati (Luk. 15:32). Sampai pada satu titik anak tersebut menyadari kesalahannya dan dengan kesediaan penuh kembali kepada orang tuanya (Luk. 15:17-21). Bapa anak bungsu itu tetap menunggu sampai anak bungsunya memiliki kesadaran dari dirinya sendiri untuk bertobat dan pulang ke rumah bapanya tanpa dipaksa. Kalau jujur dan teliti kita juga dapat menyaksikan banyak orang Kristen yang lebih terpaut kepada berkat Tuhan dari pada Tuhan sendiri. Mereka kelihatannya begitu bersemangat dengan antusias tinggi mencari Tuhan, pada hal sesungguhnya yang dicari bukanlah Tuhan sendiri tetapi berkat Tuhan. Orang-orang seperti ini hatinya pasti tidak terpaut kepada Tuhan dan kerajaan-Nya. Cara berpikir atau pemahaman yang salah ini dilegalkan atau disahkan sebagai sesuatu yang tidak keliru oleh banyak pejabat gereja sendiri, terutama mereka yang menekankan kemakmuran jasmani dalam pengajarannya. Sehingga jemaat merasa bahwa apa yang mereka pahami sudah benar. Mereka ke gereja seperti datang kepada suatu kekuatan yang dahsyat yaitu kekuatan Tuhan untuk memperoleh apa pun yang dianggapnya sebagai kebutuhan. Sampai kapan pun orang-orang yang fokusnya salah ini tidak akan pernah mengasihi Tuhan dengan benar dan tidak pernah mengalami pertobatan yang sejati. Hati mereka akan semakin terpasung oleh keindahan dunia sampai mereka tidak bisa diperbaiki lagi. Dengan keadaan ini hati mereka tidak akan bisa digerakkan untuk kembali kepada Bapa dalam pertobatan yang tulus dan murni.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.