22 November 2014: Kehausan Yang Benar

Sejatinya setiap manusia telah dikunci dengan satu kodrat atau hukum kehidupan, bahwa manusia harus menemukan pasangan abadinya. Pasangan abadi itu adalah Tuhan sendiri. Tuhan menaruh kehausan dalam jiwa manusia yang tidak bisa dipuaskan oleh apapun selain oleh Tuhan sendiri. Ini sebenarnya sama dengan jiwa manusia telah terkunci oleh Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat memuaskan dahaga jiwa manusia. Sangatlah tepat kalau Tuhan digambarkan sebagai air. Karena air adalah kebutuhan pokok manusia yang mutlak harus ada. Bagi manusia air harus dipandang sebagai segalanya.

Fakta ini dikemukakan Tuhan dalam Yohanes 4:13-14: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Lebih dari segala kebutuhan, Tuhanlah kebutuhan manusia yang mutlak, bahkan Tuhan dipandang sebagai satu-satunya kebutuhan. Seorang yang menjadikan Tuhan segalanya, bisa hidup tanpa apa pun dan siapa pun tetapi tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Ia akan berusaha menyukakan hati Tuhan dan memuaskan hasrat-Nya. Jiwanya akan sangat terganggu kala berbuat suatu kesalahan. Baginya melukai hati Tuhan sama dengan melukai diri sendiri. Hal ini sangat menyakitkan.

Orang-orang berdosa yang pikirannya dan jiwanya telah dicemari oleh hasrat duniawi tidak akan memahami hukum kehidupan ini atau kodrat ini. Mereka merasa bahwa yang dibutuhkan dan dapat memberi kebahagiaan adalah materi, kehormatan dan lain sebagainya, bukan Tuhan. Tuhan adalah alat untuk meraih semua yang dipandang kebutuhan tesebut. Tuhan tidak menjadi kebutuhannya, tetapi alat untuk meraih kebutuhan. Sangat tipis perbedaan antara apa yang dibutuhkan dan alat untuk meraihkebutuhan, tetapi sebenarnya sangat jauh berbeda. Jarang sekali umat Perjanjian Lama memahami hal ini, karena mereka belum mengenal Injil kebenaran seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Fokus mereka masih sekitar pemenuhan kebutuhan jasmani. Orang percaya yang hidup di zaman anugerah dan mengenal Injil kebenaran harus memiliki kehidupan yang berkualitas, yang dapat menjadikan Tuhan sebagai segalanya dalam hidup ini. Kekristenan merupakan proses untuk mengubah kehausan jiwa. Dari kehausan kepada banyak hal, berubah menjadi kehausan akan Tuhan saja.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.