22. HIDUP YANG TIDAK BERHARGA

ORANG YANG BERJALAN dalam tata laksana kehidupan yang benar sebagai orang percaya, tidak akan memohon-mohon perlindungan Tuhan seakan-akan Tuhan perlu dibujuk untuk itu. Orang yang hidup dalam tata laksana kehidupan yang benar akan sangat percaya bahwa Tuhan tidak merencanakan kecelakaan bagi orang yang dikasihi-Nya. Tuhan pasti menjagai milik-Nya tanpa permintaan kita. Memohon perlindungan Tuhan, sejatinya menunjukkan ketidakpercayaan terhadap kasih Allah yang sempurna. Kualitas hidup seperti ini tidak akan ditemukan dalam agama manapun (juga umat Perjanjian Lama), sebab mereka tidak mengenal penebusan oleh darah Tuhan Yesus. Penebusan menempatkan orang percaya menjadi milik Tuhan yang berstatus sebagai anak-anak Allah.

Tentu saja Tuhan menopang dan melindungi dengan sempurna milik-Nya sendiri. Milik Tuhan ini dipercayakan kepada kita untuk kita kelola dengan baik. Oleh sebab itu kita harus menghargai kepercayaan Tuhan ini dengan memandang hidup ini sangat berharga, sebab milik Tuhan.

Hidup yang Tuhan berikan sangat berharga tetapi pada kenyataannya banyak orang yang tidak menghargai hidup dengan benar. Hal ini disebabkan karena mereka salah dalam menanggapi Tuhan. Pada umumnya, mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena hendak menjadikan Tuhan sebagai perlidungan bagi masalah hidup di dunia ini. Mereka hanya hendak menjadikan Tuhan sebagai kontributor utama untuk membantu menjalani kehidupan dengan segala kesulitannya. Dengan ber-Tuhan, mereka berkeyakinan dan merasa bahwa hidup ini bisa dijalani dengan lebih menyenangkan menurut versinya. Mereka berkeyakinan bahwa dengan bergereja maka Tuhan akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan, dari soal ekonomi, kesehatan sampai masalah surga neraka.

Ini adalah sikap yang sebenarnya tidak dewasa. Kalau sikap seperti ini ada dalam kehidupan orang Kristen yang baru atau masih kanak-kanak rohani, bisa dimengerti, tetapi kalau sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen masih memilki sikap seperti ini, berarti ia tidak menghormati Tuhan dan tidak pernah menjadi dewasa.

Sikap ini sebenarnya sikap yang menuduh Tuhan sebagai pribadi yang mempersulit kehidupan manusia. Tuhan dianggap sebagai Pribadi yang memancing orang atau memaksa orang datang kepada-Nya dengan ancaman kesulitan hidup. Jika benar demikian, allah macam apa dia? Yang benar tidaklah demikian. Kehidupan ini memang sudah sulit karena manusia yang menjadi penyebabnya (Adam berdosa). Kalau kita mengerti kebenaran, maka kita akan menerima kesulitan yang ada dan berjuang untuk dapat menanggulangi hidup dengan penuh tanggung jawab. Dalam pergumulan menghadapi berbagai persoalan tersebut kita menjadi dewasa mental sebagai fondasi bangunan kedewasaan rohani. Kesulitan hidup juga membuat kita dapat menghayati bahwa bumi ini bukan rumah kita, sehingga kita berpengharapan bumi lain yang lebih baik. Faktanya banyak orang Kristen dibuat kerdil oleh ajaran-ajaran yang tidak bertumbuh atau tidak berkembang. Banyak orang Kristen terus menerus diperlakukan seperti orang Kristen baru yang masih kanak-kanak. Mestinya kita sudah menjadi dewasa yaitu berurusan dengan Tuhan untuk memberi diri didewasakan, tanpa mempersoalkan kebutuhan jasmani yang pasti Tuhan akan sediakan.

Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak memberikan kesulitan melampaui kekuatan kita. Jadi kita tidak perlu bersungut-sungut dan tidak perlu minta pertolongan Tuhan atas apa yang menjadi tanggung jawab kita. Sebagai anak-anak Tuhan, Tuhan pasti menopang kita bila ada persoalan yang melampaui kekuatan kita. Hidup menjadi tidak bernilai ketika seseorang menghabiskan umur hidupnya hanya untuk membangun monumennya sendiri. Monumennya sendiri artinya hanya menjalani hidup sesuai dengan kesenangannya sendiri di bumi ini sehingga tidak berusaha bagaimana menjadi anak-anak Allah yang berkenan, yaitu memiliki kedaulatan tak terbatas atas moralnya untuk dapat hidup sesuai dengan moral Tuhan. Hal ini harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tanpa usaha ini maka seseorang berarti menyia-nyiakan hidupnya, ia akan kembali ke kekekalan dalam kemiskinan abadi.1

1) Lukas 12:19-20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.