21. TIDAK BERCACAT TIDAK BERCELA

APATISME UNTUK HIDUP tidak bercacat dan tidak bercela juga disebabkan oleh pengalaman hidup yang telah dilalui, selalu gagal untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Pengalaman hidup dan catatannya menunjukkan bahwa mencapai hidup tidak bercacat dan tidak bercela adalah kemustahilan. Hal ini membangun “mental block”. Orang-orang Kristen seperti ini tidak menyadari keadaannya. Mereka menyusun doktrin untuk membela pandangan mereka, yang pada intinya adalah bahwa kesempurnaan hanya dapat dicapai nanti di balik kubur. Teologia yang dibangun biasanya teologi yang tidak menuntut manusia mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mereka tidak mengajarkan bahwa manusia harus berjuang untuk mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Bagi mereka keselamatan hanyalah terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Menurut mereka, semua dikerjakan oleh Allah. Manusia tidak berhak menentukan “takdirnya”, sebab semua takdir ditentukan oleh Allah. Tidak heran kalau mereka menempatkan Tuhan sebagai kausalitas segala sesuatu, termasuk sebagian manusia yang masuk neraka. Waktu akan menguji apakah ajaran seperti ini mampu membawa umat kepada integritas manusia yang unggul seperti yang dirancang Tuhan atau tidak.

Manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya. Setiap individu menentukan takdirnya. Menjadi seorang yang tidak bercacat atau tidak bercela tergantung individu tersebut. Itulah sebab Petrus mengatakan: “siapkanlah akal budimu… Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.1 Firman ini sangat jelas bahwa orang percaya harus memiliki kekudusan seperti Allah. Itulah sebabnya Perjanjian Baru tidak memberi peluang orang percaya boleh hidup dalam dosa atau kesalahan. Orang percaya harus sempurna. Ini adalah harga mati yang tidak dapat ditawar. Firman Tuhan sangat jelas menuntut kita untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela,2 bahkan Tuhan menghendaki agar orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa.3 Firman Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki kekudusan seperti Bapa.4 Dalam tulisan Paulus kepada jemaat Korintus jelas sekali dikatakan bahwa mereka harus hidup tidak bercela dan tidak hidup dalam persekutuan dengan orang berdosa. Jika menuruti hal ini, maka Allah akan menerima mereka sebagai anak-anak-Nya.5

Dalam kamus hidup orang percaya hanya ada satu dari dua pilihan, terang atau gelap. Orang percaya tidak diperkenankan ada di daerah abu-abu atau sebuah level mediokritas (setengah-setengah). Orang percaya harus menempatkan diri di tempat terang dan berperilaku sempurna seperti Bapa. Untuk ini orang percaya harus berjiwa besar dan bermental baja, artinya orang percaya harus berani menerima perintah Tuhan untuk hidup tidak bercacat dengan optimis, bahwa Dia yang memerintahkan orang percaya berbuat sesuatu, pasti Ia menyanggupkannya, sebab Ia memberi fasilitas dan menuntunnya. Dalam suratnya Paulus mengatakan: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus”.6 Orang yang menolak hidup kudus atau hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela berarti menolak menjadi anak Allah. Hal ini hendaknya tidak dipahami sebagai merusak doktrin solagracia. Memang hanya karena anugerah kita menjadi anak Allah. Tetapi anugerah tidak menempatkan orang percaya secara otomatis berkeadaan sebagai anak Allah. Berkeadaan sebagai anak Allah adalah hasil perjuangan dari orang percaya, yang menerima Yesus sebagai Tuhan, atau menempatkan Tuhan sebagai pemilik kehidupan ini.7 Itulah sebabnya jika seseorang menolak untuk hidup kudus berarti menolak menjadikan Yesus sebagai Tuhannya.

1) 1Petrus 1:13-16 ; 2) Filipi 2:15; 1Timotius 6:14;1Petrus 1:13-16 ; 3) Matius 5:48 ; 4)1Petrus 1:16 ; 5)2Korintus 6:14-18 ; 6)1Tesalonika 4:7; 7) Yohanes 1:11-13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.