21. Tanda Yang Tidak Selalu Sama

TANDA BAPTISAN ROH yang terjadi pada orang percaya di gereja mula-mula tidak selalu sama. Misalnya di Kisah Para Rasul 2 pada peristiwa Pentakosta, tanda baptisan Roh berupa tanda bunyi tiupan angin keras dan lidah-lidah api yang menghinggapi para rasul, kemudian mereka berkata-kata dengan bahasa lain atau mengucapkan lidah asing (Yun. heterais glossais; ἑτέραις γλώσσαις). Lidah asing ini tidak sama dengan bahasa Roh. Sebenarnya, kata bahasa Roh dalam teks aslinya adalah lalounton glossais (λαλούντων γλώσσαις) yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan speaking with tongues. Bahasa Indonesia biasa menerjemahkan sebagai bahasa Roh. Sebenarnya teks aslinya tidak ada kata Roh. Terjemahan harafiahnya adalah “ berkata-kata dengan lidah”. Tanda-tanda yang dikerjakan oleh Tuhan di peristiwa Pentakosta dalam Kisah Rasul 2, sungguh-sungguh suatu kejadian yang spektakuler. Selain tiupan angin dan lidah-lidah api, juga dengan disertai dengan mengucapkan bahasa atau lidah asing, yang hampir tidak pernah terulang. Peristiwa seperti ini hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terjadi kedua kalinya. Perlu diperhatikan bahwa baptisan Roh Kudus yang terjadi di sini, terjadi tanpa adanya penumpangan tangan.

Di Samaria juga terjadi baptisan Roh Kudus oleh Petrus dan Yohanes, ketika mereka menumpangkan tangan atas orang-orang yang sudah percaya dan dibaptis, yang merupakan hasil pelayan Filipus, Sang Penginjil. Dalam kisah baptisan Roh di Samaria, tidak dikisahkan dengan jelas adanya karunia-karunia Roh atas mereka yang dibaptis Roh Kudus. Baptisan yang dialami orang percaya tidak disertai tanda yang jelas.1 Hal ini sangat dimungkinkan karena memang telah terjadi banyak mukjizat yang sudah menandai bahwa mereka dipenuhi Roh Kudus.2 Baptisan Roh Kudus juga terjadi di rumah Kornelius di daerah Kaisarea. Ketika Roh Kudus turun, mereka berbahasa Roh.3 Baptisan Roh Kudus yang terjadi di rumah Kornelius juga tanpa penumpangan tangan.

Orang-orang bersunat dari kelompok Petrus tercengang -dengan karena karunia Roh juga diberikan kepada orang-orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain) yang mereka anggap sebagai orang kafir. Adapun

baptisan Roh yang terjadi di kota Efesus -yang ditulis dalam Kisah Rasul 19:6- selain disertai dengan tanda berbahasa Roh, juga dengan bernubuat. Baptisan Roh di sini disertai dengan penumpangan tangan, berbeda dengan yang terjadi di Yerusalem dan di Kaisarea. Hal ini menunjukkan bahwa baptisan Roh Kudus tidak harus disertai dengan cara dan tanda-tanda tertentu secara mutlak. Dari empat kisah baptisan Roh dalam Kisah Para Rasul tidak ada yang memiliki kesamaan cara dan tanda secara tepat persis.

Mengapa sebagian besar tanda baptisan Roh Kudus pada gereja mula-mula pada umumnya berbahasa Roh? Tentu ada maksud di balik fenomena ini. Jawabnya adalah sebab Tuhan hendak menunjukkan dan memberi kesan atau pesan yang kuat dan jelas di depan mata orang-orang pada zaman itu bahwa mereka yang dibaptis Roh Kudus dirasuki oleh “suatu Roh”. Dan Roh itu adalah Roh Kudus yang telah dinubuatkan oleh nabi-nabi di Perjanjian Lama,4 oleh Yohanes Pembaptis5 dan Tuhan Yesus sendiri.6 Dengan berbahasa Roh tersebut akan nampak jelas bahwa mereka yang dibaptis Roh Kudus dirasuki oleh “suatu Roh”, yang juga membuat mereka seakan-akan menjadi manusia lain. Hal tersebut akan mudah dipahami oleh orang-orang pada zaman itu –yang juga sudah mengenal praktik klenik- yaitu adanya roh-roh yang bisa merasuk dalam diri seseorang.7 Tuhan bekerja dengan menyesuaikan diri dengan cara berpikir manusia pada zamannya. Apakah di zaman kita hari ini hal ini juga mutlak harus berlangsung, bahwa setiap orang yang dibaptis Roh Kudus harus disertai suatu tanda? Tentu harus dijawab dengan bijak dan analistis Alkitabiah. Memang seseorang yang hidup pada masa baptisan Roh Kudus dan yang mengalaminya, memiliki kesempatan mengalami pula karunia Roh, tetapi tidak dipatok harus memiliki atau mengalami karunia Roh tertentu. Karunia Roh yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan hal itu tergantung pada kebijakan Tuhan.

1) Kisah 8:17 ; 2) Kisah 8:13 ; 3) Kisah 10:44-45 ; 4) Yesaya 44:3; Yehezkiel 39:29; Yoel 2:28; 5) Matius 3:11 ; 6) Kisah 1:1-4 ; 7) Kisah 16:16-18

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.