21 Oktober 2014: Inti Pelayanan

Mengesankan bahwa gereja adalah ruang pertemuan satu-satunya dengan Tuhan adalah kesalahan yang sudah sedemikian sistimatis dan masif sehingga sukar sekali untuk diubah, untuk membawa orang percaya kepada kekristenan yang sejati. Kekristenan yang sejati adalah mengenakan pikiran dan perasaan Kristus dan hal itu terekspresi dalam tindakan konkrit kepada semua orang di sekitar kita. Ruang pertemuan kita dengan Tuhan juga adalah lokasi dimana kita menolong orang yang membutuhkan keselamatan yaitu dihindarkan dari api kekal dan diperkenan masuk langit baru dan bumi yang baru. Merekalah yang termasuk dalam saudara kita yang paling hina (Mat. 25:40). Cara berpikir yang salah telah menenggelamkan banyak orang Kristen untuk hidup bagi dirinya sendiri, tetapi mereka merasa bahwa mereka telah melayani Tuhan yaitu dengan ada dalam kegiatan pelayanan gereja. Padahal inti pelayanan pada dasarnya adalah bagaimana orang di sekitar kita dibawa ke langit baru dan bumi yang baru. Pada akhirnya usaha menyelamatkan jiwa-jiwa atau menolong sesama kita yang paling hina bukanlah sebagai kewajiban tetapi beban dan irama jiwa kita yang mengalir dengan sendirinya. Hal ini terjadi seiring dengan karakter Kristus yang semakin menguasai diri seseorang. Irama pelayanan seperti ini yang benar dan murni. Pastilah mereka yang melayani dengan cara demikian tidak memperhatikan upah dalam bentuk apa pun. Baginya yang penting menyelesaikan tugas sampai menutup mata. Mereka akan berusaha memaksimalkan potensi untuk dapat menjadi efektif bagi pekerjaan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus memiliki sesuatu untuk dapat dijadikan sarana dalam pelayanan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan. Kalau kita tidak memiliki apa-apa maka kita tidak berguna. Dengan demikian mengembangkan potensi sehingga memiliki tubuh yang sehat, ekonomi yang baik dengan hikmat dan kecerdasan akan membuat seseorang efektif bagi Tuhan adalah bagian dari pelayanan. Kalau orang Samaria yang murah hati tidak memiliki kemampuan (kekayaan dan fasilitas lainnya), maka walaupun ia murah hati ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hendaknya kita tidak merasa telah ikut serta dalam pelayanan untuk memindahkan manusia ke langit baru dan bumi yang baru, sementara potensi yang digunakan hanya beberapa persen saja. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah segenap hati, jiwa dan akal budi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.