21 November 2014: Pengalaman Mistis

Hendaknya kita tidak terpancing untuk berkeinginan mengalami Tuhan tanpa landasan Alkitab yang benar. Pengalaman dengan Tuhan tanpa memahami kebenaran Alkitab akan membawa seseorang kepada penyesatan. Orang-orang yang mengaku mengalami Tuhan tanpa memahami kebenaran Alkitab, pasti sesat. Mereka menjadi orang-orang yang sangat mistis. Biasanya mereka memformulasikan mengenai Tuhan dan hal-hal rohani berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka yang subyektif. Mereka adalah orang-orang yang mau mengalami Tuhan secara instan. Dewasa ini banyak orang gandrung dengan budaya “instan”. Segala sesuatu mau serba instan. Juga dalam memasuki pengalaman “dunia roh” atau alam supranatural. Banyak orang Kristen yang mau mengalami Tuhan secara alam roh tanpa belajar kebenaran Firman Tuhan dengan baik. Mereka ibarat orang masuk tanpa peta. Bahaya budaya instan dalam dunia kekristenan bukan saja menyangkut pemahaman secara pikiran terhadap kebenaran, tetapi juga kesiapan mental seseorang mengalami Tuhan. Adalah mungkin seseorang menjadi jatuh dalam dosa kalau memiliki pengalaman yang luar biasa dengan Tuhan; misalnya menjadi sombong.

Kesiapan mental ini bukan menyangkut kerendahan hati, dimana seseorang yang memiliki pengalaman supranatural tetap rendah hati dan menyadari bahwa pengalaman spektakuler yang dialaminya adalah pemberian Tuhan bukan prestasinya. Kesiapan mental juga menyangkut kejujuran. Fenomena alam jiwanya tidak boleh diakui sebagai pernyataan atau wahyu dari Tuhan. Pengalaman orang lain yang didengar atau dibacanya dari buku, hendaknya tidak diimpor dan diakuinya sebagai pengalaman pribadinya. Untuk menghindari penyesatan ini kita harus memahami kebenaran Alkitab dengan benar. Dalam hal ini jelas dibutuhkan perangkat kebenaran Alkitab bukan pengalaman pribadi seseorang. Pengalaman pribadi seseorang bisa salah. Bisa salah di sini maksudnya bahwa pengalaman pribadi seseorang belum tentu dari Tuhan. Bukan tidak mungkin, aktivitas jiwa yang sangat subyektif dibungkus atau dikemas dengan lebel sebagai pengalaman rohani dari Allah, kemudian memaksa orang lain untuk mengakuinya sebagai dari Tuhan. Lebih konyol lagi kalau kemudian hal itu dijadikan standar kebenaran. Untuk membebaskan banyak orang Kristen hari ini dari penipuan-penipuan tersebut, gereja dan para hamba Tuhan harus mengajarkan kebenaran Alkitab yang murni kepada jemaat.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.