21. Maksud Pengalaman Dengan Tuhan

KITA TIDAK BOLEH puas dengan pengalaman rohani yang sudah kita alami dan miliki bersama Tuhan. Pengalaman yang telah kita miliki sehebat apa pun bukanlah dasar yang cukup untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama dengan Tuhan. Banyak hal yang harus kita hadapi dan banyak hal yang harus kita selesaikan dengan Tuhan di masa depan, yang oleh karenanya kita harus mengalami lebih banyak lagi. Apalagi kalau seseorang belum memiliki pengalaman yang cukup dengan Tuhan, berarti ia harus meraih lebih banyak pengalaman dengan Tuhan yang berguna untuk proses penyempurnaan bagi kedewasaan rohaninya. Orang percaya harus percaya bahwa banyak berkat yang tak ternilai yang sudah disediakan Bapa bagi kita yang oleh karenanya kita beracara dengan Tuhan. Kalau berurusan dengan Tuhan, yang menjadi fokus perhatian bukanlah pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi keselamatan yaitu bagaimana dikembalikan kepada rancangan semula Allah. Manusia sesuai dengan rancangan semula Allah bisa mengimbangi bersekutu dengan Tuhan. Orang percaya harus mendesak Tuhan untuk bisa memiliki pengalaman dengan Tuhan yang berguna bagi pendewasaannya. Artinya sungguh-sungguh menyediakan pikiran, perhatian, tenaga dan segala sesuatu untuk bisa mengalami Tuhan. Di antaranya belajar Firman kebenaran, berdoa, bersekutu dengan saudara seiman yang dapat berbagi kebenaran dan lain sebagainya. Selanjutnya harus jeli untuk melihat pembentukan Tuhan melalui setiap pengalaman hidup, baik yang dilihat, didengar dan dialami. Kita harus menyadari bahwa kita hidup memang hanya untuk menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan artinya menemukan kehendak-Nya sehingga bisa berinteraksi secara harmoni dengan Dia, sebab orang yang tidak berinteraksi secara harmoni dengan Tuhan di bumi ini tidak akan berinteraksi dengan Tuhan selamanya. Kesempatan untuk bisa menemukan Tuhan dan berinteraksi dengan Dia ini sangat terbatas. Tuhan dengan ketatnya membatasi kesempatan tersebut. Dan kesempatan ini hanya satu kali selama hidup.

Orang percaya harus mendesak Tuhan untuk bisa memiliki pengalaman dengan Tuhan yang berguna bagi pendewasaannya. Artinya sungguh-sungguh menyediakan pikiran, perhatian, tenaga dan segala sesuatu untuk bisa mengalami Tuhan. Di antaranya belajar Firman kebenaran, berdoa, bersekutu dengan saudara seiman yang dapat berbagi kebenaran dan lain sebagainya. Selanjutnya harus jeli untuk melihat pembentukan Tuhan melalui setiap pengalaman hidup, baik yang dilihat, didengar dan dialami. Kita harus menyadari bahwa kita hidup memang hanya untuk menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan artinya menemukan kehendak-Nya sehingga bisa berinteraksi secara harmoni dengan Dia, sebab orang yang tidak berinteraksi secara harmoni dengan Tuhan di bumi ini tidak akan berinteraksi dengan Tuhan selamanya. Kesempatan untuk bisa menemukan Tuhan dan berinteraksi dengan Dia ini sangat terbatas. Tuhan dengan ketatnya membatasi kesempatan tersebut. Dan kesempatan ini hanya satu kali selama hidup.

Kita tidak boleh puas dengan pengalaman rohani yang sudah kita alami dan miliki bersama Tuhan, sebab belum tentu pengalaman dengan Tuhan yang sudah kita miliki benar-benar dari Tuhan atau berguna untuk pendewasaan kita. Kita harus berani mencurigai bahwa pengalaman kita dengan Tuhan yang pernah kita alami tidak semua bisa dipercayai. Bisa saja itu fenomena jiwa kita yang kita akui sebagai pengalaman dengan Tuhan, ternyata bukan dari Tuhan atau maksud pengalaman itu diberikan oleh Tuhan belum dipahami. Jika semua gejala dan fenomena dalam jiwa selalu diakui berasal dari Tuhan, maka bisa menyesatkan dan membangun image tentang Tuhan yang salah. Oleh sebab itu orang percaya harus memiliki pikiran cerdas yang dibangun dari kebenaran Alkitab. Tanpa dipandu kebenaran Alkitab, maka banyak pengalaman subyektif menjadi dasar pengajaran dan teologi. Hal ini pasti menyesatkan. Harus diingat bahwa ajaran sesat sering muncul dari subyektifitas yang menjadi landasan suatu pengajaran.

Pengalaman dengan Tuhan pasti memiliki maksud untuk pendewasaan rohani. Pengalaman dengan Tuhan bukan kekaguman kepada Allah, seakan-akan Tuhan senang dikagumi. Pengalaan dengan Tuhan juga bukan untuk gagah-gagahan kita seperti yang dialami bangsa Israel atau zaman Perjanjian Lama. Tetapi pengalaman dengan Tuhan untuk supaya anak-anak Allah mengambil bagian dalam kekudusan Bapa atau mengenakan kodrat Ilahi.1 Pengalaman dengan Tuhan yang tidak mendewasakan adalah pengalaman yang tidak bermutu. Tidak sedikit kesaksian mengenai perbuatan Tuhan yang dibagikan kepada jemaat malah membangun bangunan yang salah mengenai pribadi Tuhan. Ironinya, justru hal ini dilakukan oleh para pembicara di gereja-gereja. Mereka tidak memperhitungkan bahwa kekaguman yang dibangkitkan terhadap dirinya dari kesaksian-kesaksian yang dikemukakan mengakibatkan jemaat tidak menemukan Allah yang benar. Jemaat menemukan sosok Allah menurut versi sang pembicara dan yang tidak pernah jemaat alami sendiri.

1) Ibrani 12:9-10; 2Petrus 1:3-4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.