21 Januari 2015: Dia Adalah Kebenaran

Tuhan Yesus tegas berkata, “Akulah kebenaran”. Kata kebenaran dalam Yohanes 14:6 adalah alitheia (ἀλήθεια), yang diterjemahkan truth. Dalam bahasa Yunani selain kata alitheia untuk kata kebenaran juga dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini terdapat dalam Matius 5:20, lengkapnya tertulis demikian: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Kata dikaiosune lebih tepat diterjemahkan kebenaran. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan righteousness. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru kata dikaiosune diterjemahkan “hidup keagamaan”. Terjemahan ini sebenarnya kurang tepat, sebab hidup keagamaan lebih mengesankan hidup agamani, sedangkan dikaiosune juga meliputi sikap hati dan pola berpikir seseorang. Kata dikaiosune selain berarti righteousness, juga dapat diterjemahkan equity (of character or act); specially (Christian) justification. Jadi, dikaiosune lebih berarti tindakan adil dalam karakter atau kebenaran dalam tingkah laku.

Sedangkan kata alitheia lebih menunjuk kebenaran yang bertalian dengan pemahaman terhadap eksistensi Tuhan. Perlu diketahui bahwa ketika Injil Yohanes ditulis, kekristenan sedang bergumul hebat menghadapi ajaran sesat di zaman Hellenis (zaman dimana kebudayaan Yunani menguasasi dunia). Gereja sedang dilanda “spirit gnostik”. Oleh pengaruh filsafat Yunani timbul kesan seolah-olah gnostik sejajar dengan kebenaran Injil. Bahkan kemudian timbul praktik berteologi yang salah, yaitu usaha untuk memahami kebenaran Injil dengan filsafat Yunani sebagai alat atau “tool” nya. Injil Yohanes ditulis dalam rangka mengantisipasi ajaran gnostik yang merajalela pada waktu itu yang dapat membahayakan iman Kristen yang murni.

Di zaman Hellenis tersebut orang-orang memuji filsafat sebagai kebenaran yang dapat mencerahi pikiran sehingga memiliki kebahagiaan. Para filsuf Yunani dianggap sebagai guru-guru yang terkemuka. Pada dasarnya filsafat Yunani menjadi semacam agama yang sangat kuat memengaruhi setiap insan. Di tengah keadaan seperti itu Injil memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai kebenaran. Sebagai antitese dari pandangan orang-orang pada waktu itu yang menganggap Injil tidak berkualitas senilai filsafat. Pandangan yang salah tersebut juga meracuni orang-orang Kristen yang tidak memahami kebenaran Injil yang murni. Faktanya tidak sedikit orang Kristen yang telah disesatkan oleh ajaran ini. Hal ini dipandang serius oleh para rasul sehingga mereka berusaha untuk melawannya dan Injil Yohanes sebagai senjata dalam peperangan tersebut. Injil Yohanes sudah cukup untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Tuhan Yesus adalah kebenaran artinya apa yang diajarkan Tuhan Yesus dapat mencerahi pikiran sehingga dapat memerdekakan manusia dari dosa yang adalah sumber segala bencana kehidupan. Dalam Injil Yohanes ditulis pernyataan Tuhan Yesus berkenaan dengan hal ini: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”.1 Kemerdekaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bukanlah kemerdekaan dari kekuasaan asing (secara politis), bukan pula kemerdekaan dari kemiskinan (secara materi) atau kemerdekaan duniawi lainnya, tetapi kemerdekaan dari dosa.2 Kemerdekaan jenis inilah yang seharusnya lebih dibutuhkan manusia. Kebenaran Injil dapat menuntun manusia kepada kehidupan yang tidak dikuasai dosa, artinya dapat hidup sesuai dengan kehendak Bapa. Sejatinya, inilah kemerdekaan sesungguhnya yang hanya bisa diberikan oleh Anak Allah. Kemerdekaan dari perkara-perkara dunia hanya dinikmati sesaat selama hidup dalam dunia. Tetapi kemerdekaan dari perbudakan dosa dapat dinikmati sampai pada kekekalan. Kemerdekaan dari dosa inilah yang harus diperjuangkan di sepanjang umur hidup ini.

1) Yohanes 8:31-32 2) Yohanes 8:34

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.