21. Hati Nurani Sebagai Hakim

HATI NURANI JUGA memberikan hukuman atau bertindak seperti hakim, sebab hati nurani yang merumuskan hukum dan sekaligus menjadi institusi dalam diri manusia menetapkan sesuatu itu salah atau benar. Selanjutnya sebagai hakim, hati nurani akan memberikan sangsi atas suatu kesalahan; tetapi juga “reward” (upah dan penghargaan) atas suatu perbuatan baik. Itulah sebabnya kalau seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya maka jiwanya terganggu, tidak damai dan menjadi gusar. Inilah bentuk hukuman yang diberikan oleh hati nurani. Tetapi sebaliknya kalau seseorang melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nuraninya, maka ia merasa puas, senang dan bahagia. Itulah “reward” yang dapat diberikan oleh hati nurani.

Jadi, jika seseorang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang dipahami hati nurani sebagai kebenaran, maka hati nurani akan memberikan hukuman dalam bentuk suasana batin yang tidak sejahtera. Ini sama dengan ketika seseorang melihat suatu kejadian yang bertentangan dengan norma yang dipahami, maka suasana hatinya terganggu atau tidak tenang. Hal inilah yang menghindarkan seseorang dari perbuatan yang melanggar kebaikan atau norma yang dipahami. Tetapi kalau pelanggaran itu dilakukan terus menerus, dan mengabaikan suara hati nuraninya, maka hati nurani yang baik akan bungkam sehingga perbuatan yang salah menjadi kebiasaan dan menjadi suatu kenikmatan untuk terus menerus dilakukan. Akhirnya suara hati yang baik yang dimilikinya menjadi rusak. Sebaliknya, kalau seseorang melalui proses pendidikan, kadang disertai dengan tekanan, menerima sesuatu yang baik, maka walau hati nuraninya bukan hakim yang baik bisa diubah menjadi hakim yang baik. Tentu selama kerusakan hati nuraninya masih dalam tahap atau tingkatan bisa diperbaiki. Kalau tadinya melakukan kesalahan hatinya merasa sejahtera saja, tetapi setelah diajarkan suatu kebenaran maka ketika ia berbuat suatu kesalahan hati nuraninya yang terbentuk menjadi baik akan merasa tidak sejahtera. Hal merubah hati nurani sebagai hakim yang buruk menjadi hakim yang baik membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini juga tergantung tingkat kerusakan hati nurani dan intensitas kebenaran yang diajarkan.

Mengamati apa yang dikemukakan di atas ini, maka masalahnya adalah bagaimanakah hati nurani menjadi hakim yang baik atau hakim yang jahat. Hal ini tergantung pada apa yang membangun, membentuk dan mengisi hati nuraninya tersebut melalui jiwa yang berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Dalam hal ini pertumbuhan kedewasaan rohani sama dengan pendewasaan hati nurani yang juga berarti melahirkan hakim yang baik. Lingkungan dan segala sesuatu yang masuk ke dalam jiwa seseorang menentukan apakah di dalam diri orang akan tersebut terbangun hakim yang baik atau hakim yang jahat. Setiap individu memiliki kebebasan apakah menyerap sesuatu yang buruk atau yang baik, sama dengan apakah mengkonsumsi buah pengetahuan yang baik dan jahat atau buah kehidupan.1 Dalam hal ini akhirnya kualitas hati nurani tergantung masing-masing individu.

Kalau lingkungan dan yang masuk ke dalam jiwa adalah hal-hal yang buruk, maka hakim yang terbangun dalam dirinya adalah hakim yang jahat. Hakim yang jahat tidak akan menghukum suatu kesalahan bahkan bisa mendukung suatu tindakan yang salah. Hakim tersebut yaitu nuraninya ikut menikmati kesalahan yang dilakukan diri manusia. Hal ini sama dengan hakim yang tidak bermoral atau tidak memahami hukum akan bertindak sewenang-wenang dan sesukanya sendiri. Orang seperti ini digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti mata yang gelap; mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.2 Setiap orang bertanggung jawab atas keadaan “matanya”, gelap atau terang.

1)Kejadian 2 dan 3; 2) Matius 6:22-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.