21 Desember 2014: Kasih Karunia Yang Berkualitas

Kita harus dapat membedakan pengertian kasih karunia dalam Perjanjian Lama dengan kasih karunia dalam Perjanjian Baru. Banyak kata kasih karunia (Ibr. khen) dalam Perjanjian Lama yang terdapat dalam berbagai kasus dan peristiwa. Masing-masing kata khen tersebut bisa memiliki pengertian yang tidak sama. Dalam hal ini kita harus dengan sangat teliti melihat konteks dimana kata tersebut berada. Tetapi pada umumnya pengertian khen dalam Perjanjian Lama berarti kemurahan hati atau pemberian khusus yang istimewa. Misalnya kasih kasih karunia yang diterima Nuh (Kej. 6:8), konteksnya adalah Nuh dari sekian banyak manusia adalah orang benar yang dapat dipercayai Tuhan untuk membangun bahtera oleh karena kehidupannya yang menjauhi kejahatan. Dalam Perjanjian Lama, khususnya bagi bangsa Israel, orientasi kasih Karunia Tuhan adalah pemeliharaan atas kehidupan jasmani di bumi ini dengan segala kebesarannya. Hal ini seirama dengan fokus hidup mereka yaitu tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Bangsa Israel juga mendapat kasih karunia dari Tuhan untuk menerima dan menyimpan warisan abadi yaitu pengenalan satu-satunya akan Allah yang benar. Selain itu bangsa Israel adalah bangsa yang melahirkan Mesias. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yoh. 4:22). Dari semua bangsa yang ada di dunia, inilah satu- satunya bangsa yang memiliki kehormatan yang sangat luar biasa. Itulah sebabnya sampai sejarah dunia ini berakhir, bangsa Israel tidak akan lenyap. Mereka adalah saksi Allah yang benar untuk membuktikan dan menunjukkan siapakah Allah yang benar itu. Kasih karunia dalam Perjanjian Baru berorientasi pada keselamatan, yaitu usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya. Fokus hidup orang percaya adalah menjadi sempurna seperti Bapa dan mengarahkan diri pada langit baru dan bumi yang baru; bukan kehidupan di bumi ini tetapi Kanaan Surgawi. Hal ini sangat berbeda dengan masa Perjanjian Lama. Keadaan di Perjanjian Lama adalah keadaan dimana Tuhan Yesus belum memberikan penebusan oleh darah Tuhan Yesus Kristus. Bisa dimengerti kalau standar moral tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama yang terbaik pun belum menemukan kemuliaan Allah yang hilang (Rm. 3:23). Mereka pun juga belum bisa dituntut untuk sempurna seperti Bapa. Orientasi berpikir mereka masih duniawi, kecuali beberapa tokoh tertentu terutama Abraham. Abraham adalah tokoh pertama dalam sejarah kehidupan manusia yang memiliki jiwa kemusafiran yang sangat kuat. Sepanjang umur hidupnya hanya dihabiskan untuk menemukan langit baru dan bumi yang baru (Ibr. 11:8-15). Tetapi semua tokoh Alkitab Perjanjian Lama belum mengenal kasih karunia di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagi orang percaya yang hidup di zaman Perjanjian Baru, dunia ini bukan rumahnya. Kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini. Oleh sebab itu kita tidak boleh mencampur adukan secara sembarangan kasih karunia bagi bangsa Israel sebelum zaman anugerah di Perjanjian Lama dengan kasih karunia di Perjanjian Baru. Penyesatan yang banyak terjadi dewasa ini adalah ketika ada usaha menyamakan standar hidup umat Perjanjian Baru dengan bangsa Israel di Perjanjian Lama. Hal ini mengakibatkan fokus hidup orang percaya tertuju pada perkara-perkara di bumi. Terkait dengan hal ini, sebagai umat Perjanjian Baru yang hidup di zaman anugerah, hendaknya kita juga tidak mudah menggunakan kata “kasih karunia” hanya untuk hal-hal yang bersifat sementara atau sesuatu yang bernilai rendah, seperti misalnya mendapat pekerjaan, mendapat keberuntungan dalam bisnis dan lain sebagainya, yaitu hal-hal yang tidak berkaitan dengan keselamatan abadi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.