21. Berkenan Di Hadapan Tuhan

BANYAK ORANG KRISTEN berpikir bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib menghindarkan manusia dari tanggung jawab, seakan-akan anugerah mengubah kehidupan ini menjadi serba gratis. Padahal justru sebaliknya, anugerah menempatkan manusia pada tanggung jawab yang berat, sebab siapa yang diberi banyak dituntut banyak.1 Anugerah menempatkan orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang sempurna seperti Bapa di surga. Hal ini membuat hidup orang percaya menjadi berat. Orang percaya dinyatakan sebagai orang-orang yang berhutang untuk hidup menurut roh bukan menurut daging.2 Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Kesempatan untuk hidup menurut roh ini tidak lama. Bila kesempatan yang diberikan oleh Tuhan tidak digunakan sebaik-baiknya, maka tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Ini berarti ibarat pohon buah dapat tercabut dari ladang Tuhan.3 Perumpamaan tersebut memberikan indikasi bahwa seorang anak Allah diberi tanggung jawab untuk sungguh-sungguh berkeadaan sebagai anak Tuhan.

Berkeadaan sebagai anak Tuhan artinya menghasilkan buah “kodrat Ilahi” dalam kehidupannya. Kodrat Ilahi ditandai dengan kehidupan yang tidak dicemari oleh perbuatan yang bertentangan dengan keinginan Bapa dan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Jika tidak bertanggung jawab, ia tidak akan diakui sebagai anak Allah. Dalam hal ini hendaknya tidak berpikir bahwa status anak Allah dapat melekat selamanya tanpa bisa ada perubahan. Anugerah untuk menjadi anak-anak Allah disediakan oleh Allah Bapa, tetapi respon seseorang juga menentukan apakah ia menerima anugerah tersebut. Orang Kristen yang meresponi keselamatannya dengan benar akan berkeadaan berkenan kepada Tuhan. Hal ini juga diupayakan oleh rasul Paulus. Ia berusaha untuk berkenan kepada Allah.

Banyak orang Kristen yang tidak memperkarakan apakah keadaannya sudah berkenan di hadapan Tuhan atau belum.

Kenyataannya banyak mereka yang berkeadaan tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi mereka merasa tenang sebab mereka berpikir bahwa mereka tidak bermaksud mau mengkhianati Tuhan. Ia berharap suatu hari nanti bisa berkenan kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa itu hanya masalah waktu saja; Tuhan juga memakluminya. Sikap ini sebenarnya sikap yang keliru dan ceroboh. Seharusnya yang dilakukan adalah mohon pengampunan Tuhan. Pengampunan yang diberikan Allah Bapa akan menempatkan seseorang berkenan kepada-Nya secara bersyarat, artinya bahwa sekarang ia ada dalam posisi yang berkenan karena darah Yesus yang menudungi, tetapi selanjutnya ia harus belajar berkelakuan seperti Tuhan Yesus yang memperkenan hati Bapa.

Pergumulan ini akan terus berlangsung dan berulang-ulang terjadi dalam kehidupan anak Tuhan yang normal. Harus ada target yang harus dicapai. Untuk ini seseorang harus benar-benar haus dan lapar akan kebenaran, artinya merindukan kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dari pergumulan ini seseorang akan mengerti perubahan dalam kehidupannya. Ia bisa mengerti level kedewasaan yang telah dicapainya. Memang kita akan selalu berkata kita belum berkenan kepada Allah Bapa atau belum sempurna, tetapi kita menyadari bahwa kita sudah menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Kemudian ke depan kita harus menjadi lebih baik sampai kita benar-benar berkenan kepada Bapa seperti Tuhan Yesus. Pergumulan ini bersifat sangat pribadi, tidak ada orang yang bisa memahaminya, tetapi kita sendiri bisa memahaminya secara utuh. Dalam hal ini Kekristenan bukan lagi menjadi misteri seperti ada di ruangan gelap gulita. Kita sadar sepenuhnya dan mengerti apakah hidup kita bisa berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Sehingga kita bisa mengerti dengan benar, apakah kita akan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga atau ditolak. Dalam hal ini keselamatan abadi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan menjadi kepastian, bukan spekulatif.4

1) Luk 12:48 ; 2) Roma 8:12 ; 3) Lukas 13:5-9 ; 4) 2Petrus 1:3-11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.