21. ANAK MANJA

KITA HARUS MEMENUHI bagian kita, di luar bagian kita Tuhan yang akan menggarap. Bagian kita artinya kemampuan maksimal yang harus digunakan untuk mengelola hidup ini. Jika kita sudah menggunakan kemampuan kita secara maksimal, maka di luar kekuasaan kita Tuhan yang akan bertindak. Jangan berharap Tuhan bertindak sebelum kita menggunakan maksimal kemampuan kita. Dalam hal ini sesatlah ajaran yang mengesankan bahwa Tuhan akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi anak-anak-Nya dalam menanggulangi berbagai permasalahan kehidupan ini. Hal ini juga yang merusak kinerja hidup orang percaya. Demi kedewasaan rohani orang percaya, Tuhan pasti memperlakukan anak-anak Tuhan secara bijaksana, sebab hidup di dunia adalah masa pelatihan untuk memasuki hidup yang sesungguhnya di langit baru dan bumi yang baru nanti. Kekristenan yang diajarkan secara keliru membangun mental yang “lemah” bukan mental yang kokoh. Ironinya sekarang ini lebih banyak diajarkan teologia yang membuat orang percaya merasa sebagai anak-anak kesayangan dan anak emas Allah Bapa. Hal ini menciptakan anak-anak manja yang tidak bermental baja. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa menjadi pemimpin-pemimpin di Kerajaan Bapa di surga nanti.

Orang percaya harus memaksimalkan semua potensi untuk menyelenggarakan kehidupan ini tanpa kekhawatiran. Jadi kalau orang memiliki rasa khawatir yang tidak proporsional, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak merasa sebagai milik Tuhan. Khawatir yang tidak proporsional artinya ketakutan adanya sesuatu yang bisa merusak eksistensi kehidupan atau keberadaan hidup sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus percaya apa pun yang terjadi tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.1 Tuhan akan menjaga keberlangsungan keselamatan kita selama kita bertanggung jawab atas keselamatan yang Tuhan berikan dengan memaksimalkan potensi.

Seringkali isi doa-doa yang dipanjatkan oleh banyak orang Kristen kepada Tuhan mengesankan atau menunjukkan seakan-akan mereka diposisi sebagai orang di luar pihak Tuhan dan Tuhan dianggap bukan pemilik kehidupannya. Dalam doa tersebut mereka membujuk Tuhan untuk memberkati usaha mereka, melindungi keluarga dan segala hal yang mereka miliki serta memohon Tuhan menuntun langkah mereka dengan sikap hati yang salah. Tidak salah berdoa untuk kesehatan, usaha, rumah tangga dan segala masalah hidup ini. Tetapi bukan doa yang memuat bujukan dan unsur memaksa Tuhan dalam permintaan-permintaan, seakan-akan Tuhan tidak tahu apa yang terbaik untuk kepentingan-Nya. Doa yang benar pasti lebih bersifat penyerahan dan mohon petunjuk Tuhan serta tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan-Nya. Setiap kali membawa masalah hidup kepada Tuhan, kita bawa dengan suatu landasan berpikir dan sikap hati bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Dengan sikap hati demikian seseorang tidak akan berdoa dengan unsur-unsur membujuk, merayu dan memaksa Tuhan.

Kalau segenap hidup kita adalah milik Tuhan, maka Tuhan akan mempertahankan segala sesuatu yang ada pada kita, yaitu jika Ia menghendaki untuk dipertahankan. Jika tidak, Tuhan tidak akan mempertahankannya. Di sini kita harus berani menyerah kepada keputusan kebijaksanaan-Nya dan siap menghadapi situasi yang tidak kita sukai. Sebab sebagai Pemilik Kehidupan, Tuhan berhak bertindak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Kebijaksanaan Tuhan adalah kebijaksanaan yang sempurna. Untuk hal tersebut tidak diragukan sama sekali. Itulah sebabnya dalam kekristenan yang sejati tidak ada macam-macam doa, misalnya doa untuk kesuburan tanah, doa untuk mengusir setan, doa untuk kehamilan, doa untuk panjang umur dan lain sebagainya. Doa adalah dialog, bukan sekadar permintaan. Dalam berdoa orang percaya bukan mencari apa yang diingini atau dirasa sebagai kebutuhan, tetapi mencari kehendak Tuhan dan menurut sepenuhnya atas segala keputusan-Nya.

1) Roma 8:33-39

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.