20. Tidak Boleh Memaksa

MEMUTLAKKAN SESUATU YANG tidak mutlak akan membahayakan konstelasi berpikir iman Kristen yang benar. Bahayanya adalah bahwa hal tersebut bisa menjadi pemicu penyesatan. Kalau misalnya terdapat pandangan bahwa orang Kristen yang tidak berbahasa Roh berarti tidak dibaptis oleh Roh Kudus, maka terdapat orang-orang Kristen yang berusaha secara berlebihan atau memaksakan diri untuk bisa berbahasa Roh. Pandangan senada itu juga muncul di kalangan beberapa gereja yaitu bahwa orang yang tidak berbahasa Roh berarti tidak memiliki Roh Kudus. Oleh karena hal tersebut, maka terjadi praktik bahasa Roh palsu atau dibuat-buat. Sekarang ini banyak bahasa Roh yang diragukan keabsahannya yang dipraktikkan di banyak gereja. Mereka secara sembrono berbahasa Roh tanpa mengerti maknanya sama sekali. Bunyi bahasa Roh mereka pun seperti seragam dan seperti layaknya mengucapkan kata-kata hafalan. Bahkan seorang pemimpin di depan jemaat yang seharusnya menerjemahkan bahasa Rohnya untuk membangun umat, hanya berbahasa Roh tanpa menerjemahkan maksudnya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga dipahami sebagai hal yang benar dan Alkitabiah.

Dewasa ini ada praktik berkhotbah dalam bahasa Roh yang diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Bahasa Indonesia). Banyak orang tidak tahu apakah yang dikatakan benar-benar Bahasa Roh dari Roh Kudus atau palsu. Mereka juga tidak tahu apakah terjemahan tersebut benar atau tidak, sebab hal itu sangat subyektif. Tetapi kalau seseorang mengerti kebenaran Firman Tuhan, maka ia akan cepat menangkap apakah Firman yang disampaikan sesuai dengan kebenaran Alkitab atau tidak. Selain itu -membedakan apakah fenomena tersebut berasal dari Allah atau tidak- dapat dikenali melalui karunia membedakan Roh (Ing. discerning spirit).1 Seharusnya begitu seseorang mengucapkan Bahasa Roh, kita sudah mengerti apakah Bahasa Roh itu palsu atau tidak. Praktik-praktik pelayanan seperti itu harus diwaspadai. Memang kita tidak boleh menghakimi secara sembarangan, tetapi kita juga tidak boleh dengan mudah menerima saja apa yang muncul yang diakui sebagai gerakan Roh Kudus.

Gereja-gereja yang tidak belajar doktrin yang benar biasanya mudah sekali tersesat dalam fenemona baru dalam pelayanan seperti hal tersebut. Ini berarti sebuah penipuan atau ketidakjujuran. Kalau hal ini berlangsung dalam kurun waktu lama, maka ketidakjujuran tersebut pasti akan menghambat kedewasaan rohani jemaat. Dampak lain yang sangat naif adalah bahasa Roh diajarkan, seakan-akan bahasa Roh seperti bahasa manusia yang bisa dipelajari, padahal karunia-karunia Roh adalah pemberian dari Allah tidak bisa diajarkan. Sampai-sampai anak Sekolah Minggu pun diajari mengucapkan “bahasa Roh”. Sejatinya, ini adalah suatu pelecehan terhadap karunia Roh.

Penekanan pada salah satu karunia membiaskan fokus dari usaha untuk hal yang lebih prinsip, yaitu menghasilkan buah Roh yang sama dengan kesucian hidup atau penyempurnaan karakter serupa dengan Tuhan Yesus. Iblis akan berusaha supaya fokus orang percaya dapat digeser dari fokus yang benar, agar mereka tidak bertumbuh menjadi manusia sempurna yang berkualitas corpus delicti. Kita harus mewaspadai dengan cermat keadaan yang dipenuhi oleh tipu muslihat Iblis ini. Perlu dicatat bahwa karunia Roh pasti akan menyertai atau diberikan kepada orang-orang percaya yang dewasa rohani, yaitu mereka yang bisa dipercaya Tuhan mengemban pekerjaan-Nya. Allah pasti memberikan karunia-karunia-Nya tanpa diminta, yaitu bagi mereka yang berkiprah di ladang Tuhan. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bahwa mereka akan menerima kuasa (Yun. dunamis), kalau Roh Kudus turun ke atas mereka, dan mereka akan menjadi saksi. 2 Jadi sangatlah keliru kalau seseorang ngotot meminta suatu karunia, tanpa meminta pertimbangan dari Tuhan. Hal ini pasti didorong oleh motif yang tidak tepat. Dalam meminta karunia, kita harus meminta persetujuan dari Roh Kudus agar kita mengerti bagian pelayanan kita. Bukan kita yang mengatur Roh Kudus, tetapi Roh Kudus yang mengatur kita.

1) 1Korintus 12:10 ; 2) Kisah 1:8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.