20. Pluralitas Tanpa Batas

GLOBALISASI JUGA telah memicu persemaian tumbuhnya pluralisme tanpa batas dan memberikan kesadaran kepada kaum pluralis untuk menanggapi dan mengikuti proses globalisasi, sehingga keterbukaan agama yang satu dengan yang lain dapat ditumbuhkembangkan. Inilah kesadaran pluralisme yang searah dengan tuntutan globalisasi. Dalam hal ini ada seorang pemikir yang mengusulkan suatu Teologi Global atau teologi mendunia. Teologi Global yang dimaksudkan ialah teologi yang dapat diterima oleh semua agama. Teologi global tersebut adalah teologi yang tidak hanya dapat menjembatani pertemuan antar semua agama, melainkan juga mewadahi dan menerima semua kebenaran agama-agama yang ada di dunia ini. Teologia seperti ini adalah Teologi Universalisme. Munculnya pandangan ini tidak lepas dari tampilnya Teologi Historis Kritis. Pada dasarnya, Teologi Historis Kritis adalah bentuk ilmu teologi yang berusaha melihat Alkitab dari sudut pandang historis dan menilainya secara kritis. Penekanan yang mereka anggap penting adalah dalam teologi kontemporer yang pendekatannya sebaiknya dengan filsafat. Filsafat menjadi landasan untuk memahami Alkitab.

Hal ini tidak mengherankan, karena dunia kontemporer adalah dunia yang memaksimalkan ratio, juga dalam memahami Alkitab. Ditambah pengertian bahwa filsafat diakui sebagai ibu dari segala ilmu pengetahuan yang merangsang aktifitas rasio, maka mereka menjadikan filsafat sebagai acuan tunggalnya. Menggunakan rasio bukan sesuatu yang salah, bahkan wajib digunakan, tetapi rasio yang digunakan tanpa kerendahan hati dan pimpinan Roh Kudus menghasilkan pemikiran yang fasik. Sebagai dampaknya pula, membaca Alkitab tidak berbeda dengan membaca kitab Negarakertagama atau catatan-catatan sejarah tentang Kerajaan Romawi. Alkitab dilihat sebagai mitos dasar agama Kristen. Di dalam Alkitab dinyatakan terdapat banyak mitos, seperti terjadinya dunia, kelahiran Tuhan Yesus dan kebangkitan Tuhan Yesus.

Menurut pengikut faham ini, Kitab Suci memang diilhamkan, namun juga ‘mungkin mengandung kesalahan’ dan Alkitab adalah kristalisasi tradisi umat Allah semata-mata, yang tidak diakui sebagai wahyu Tuhan. Dengan sikap ini mereka merongrong kewibawaan Alkitab.

Sangatlah penting untuk memahami apa sebenarnya misi Injili. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengupas relasional finalitas Kristus dan misi Injili. Untuk memahami misi Injili, harus dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan misi Injili itu. Menurut pengertian umum selama ini, misi Injili adalah usaha untuk mewartakan Injil kepada masyarakat yang belum mengenal Injil, dengan mengirimkan tenaga-tenaga misi. Sebenarnya misi Injili adalah aktivitas yang tidak terbatas ruangan, waktu dan personil; sebuah aktivitas yang melibatkan semua orang percaya di segala tempat dan di sepanjang zaman. Misi Injili dapat diselenggarakan bila gereja memiliki landasan yang kokoh secara doktrinal dalam memandang soteriologi. Bila pandangan soteriologi tidak benar, seperti yang disinggung di atas (terdapat pandangan bahwa keselamatan juga ada di dalam agama-agama non-Kristen), maka misi injili menjadi luruh. Tidak diperlukan lagi pekerjaan misi. Untuk apa? Toh tanpa Yesus manusia dapat menerima keselamatan.

Kaum pluralis menyangkal amanat agung Yesus agar menjadikan semua bangsa murid-Nya. Kaum Pluralisme menolak praktik penginjilan yang benar dan militan. Maksudnya adalah pemberitaan yang menegaskan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Militan adalah usaha yang bersungguh-sungguh dengan segala pengorbanan, keberanian, ketegasan dan disiplin. Kaum Pluralis mengartikan misi sekadar sebagai usaha orang Kristen mencari dan membangun persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang non-Kristen. Pemahaman mereka mengenai kasih Allah bersifat universal atau penyataan umum semata-mata. Dengan demikian mereka tidak menampilkan kasih Allah secara khusus yang diberikan melalui korban Anak Allah, sebagai jalan keselamatan satu-satunya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.