20. Penumpasan Manusia Lama

KEKRISTENAN YANG MURNI sangat radikal, yaitu bagaimana menumpas semua unsur kekafiran dalam kehidupan orang percaya. Penumpasan ini merupakan proses panjang, tetapi harus dilakukan dengan segenap hati. Kalau Alkitab berbicara mengenai “kematian dari manusia lama” hal itu menunjuk kepada kesediaan untuk meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah penumpasan tersebut. Seperti bangsa Israel diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa di Kanaan demikian pula kita harus menumpas semua pola berpikir dan gaya hidup yang masih memuat unsur-unsur kafir. Toleransi yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap sebagian penduduk Kanaan menjadi penyebab pengaruh kafir masuk dalam kehidupan umat Tuhan. Oleh sebab itu orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran seperti yang dinasihatkan oleh rasul Paulus.1

Pada akhirnya, target yang harus dicapai adalah “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”.2 Ini berarti jejak hidup seseorang akan tertumpas habis, sehingga kehidupan Tuhan Yesus yang tampil. Sampai taraf ini orang percaya pantas mendapat pernyataan Paulus; bahwa kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.3 Orang Kristen yang mengalami proses ini dengan benar, akan semakin memiliki pesona yang luar biasa. Semua orang akan berkata bahwa orang tersebut berbeda sekali. Perbedaan ini menjadi kesaksian yang sangat kuat untuk membuktikan kebenaran Injil.

Dalam hal tersebut orang percaya harus menyediakan “bejana kosong” dan membuka diri untuk diisi oleh Tuhan Yesus. Nyanyian “Mari Masuk Hatiku ya Yesus” bukan berarti seseorang merasa Tuhan Yesus telah masuk dalam hatinya, dan merasa telah miliki Tuhan di dalam dirinya atau merasa telah memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus. Kalau seseorang serius memperkenan Tuhan Yesus masuk ke dalam bejana hatinya, maka ia harus berusaha keras untuk mengosongkan bejana hati dan mengisinya dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal ini berarti mempersilakan Tuhan Yesus memenuhi dirinya dengan pikiran dan perasaan Kristus.4

Memang proses sampai taraf “mati secara permanen” -yaitu manusia lama tidak lagi muncul dalam hidup seseorang- adalah proses yang panjang. Tetapi harus dimulai sejak dini atau secepatnya. Dari sebuah kesediaan yang tulus kemudian menjadi langkah konkret untuk terus bertumbuh dalam kebenaran Tuhan. Memantapkan kematian manusia lama ini seseorang harus rela meninggalkan segala keindahan dan kesenangan hidup yang pernah dinikmati. Kesediaan itu sama dengan melepaskan diri dari segala milik.5 Kesediaan yang tulus menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan. Sejak itu seseorang akan digarap Tuhan.

Orang percaya yang berani menumpas habis manusia lamanya akan menjadi orang-orang yang unggul luar biasa. Kalau murid-muird pertama di zaman gereja mula-mula sanggup melakukannya, mengapa kita tidak berani melakukan? Seperti mereka bisa mematikan nafsu dan segala keinginan duniawi -artinya mengosongkan diri- kita juga harus mengosongkan diri untuk diisi oleh atau dikuasai oleh Roh-Nya, sehingga kita bisa memiliki kepribadian seperti Tuhan Yesus. Suatu hari bila kita berjumpa dengan Bapa, Ia akan menemukan pribadi anak-Nya di dalam diri kita. Manusia lama kita harus segera dimatikan agar tidak menjadi sosok yang tidak pernah bisa ditumbangkan. Faktanya banyak orang sampai taraf dimana raksasa manusia lama dalam dirinya tidak bisa ditumpas lagi. Mereka orang-orang yang tidak bersedia menyangkal diri sehingga Bapa tidak akan pernah dapat menemukan pribadi Anak-Nya dalam diri mereka. Itu berarti kegagalan menjadi manusia Allah seperti yang dikehendaki oleh Bapa.

1) Roma 12:2 ; 2) Galatia 2:19-20 ; 3) Kolose 3:1-4 ; 4) Filipi 2:5-7 ; 5) Lukas 14:33

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.