20. PENATALAYANAN

ORANG PERCAYA ADALAH orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus. Segenap hidupnya telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, sehingga menjadi milik Tuhan sepenuhnya.1 Kenyataan ini memiliki beberapa implikasi yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan. Karena segenap hidup kita dimiliki oleh Tuhan maka kita tidak perlu khawatir atas segala sesuatu yang dapat mengancam dan membahayakan atasnya. Ini bukan berarti kita boleh sembrono, tidak waspada dan berjaga-jaga dalam segala hal. Kita harus menjaga milik Tuhan ini dengan bijak sebagai pengelola yang bertanggung jawab, bukan sebagai pemilik. Milik Tuhan itu adalah kesehatan kita, keluarga, usaha, keluarga besar, masyarakat sekitar dan lain sebagainya. Hidup dalam dunia ini merupakan pelatihan untuk bertanggung jawab atas milik orang lain.2 Jika kita sudah bisa bertanggung jawab atas milik orang lain (milik Tuhan), maka kita akan menerima harta kita sendiri di Kerajaan-Nya nanti. Sesungguhnyaharta kita sendiri barulah nanti apa yang akandiberikan Tuhan kepada kita di dalam Kerajaan Surga.

Adam mewakili semua manusia diberi harta oleh Tuhan yaitu kehidupan ini. Itulah hartanya sendiri. Tetapi manusia telah membuang hidupnya itu dengan memberontak terhadap Tuhan. Hal ini mengakibatkan dunia tidak lagi dapat menjadi tempat hunian yang ideal. Dunia hanya menjadi tempat pelatihan untuk mempersiapkan orang percaya menerima dan memiliki hartanya sendiri. Dunia tidak dapat dinikmati sebab manusia telahterjual di bawah kuasa dosa.3 Orang berdosa tidak akan dapat menikmati ciptaan Allah secara ideal. Dengan hal ini bisa dipastikan bahwa dunia dan apa pun tidak bisa dinikmati manusia secara ideal sebelum manusia dipulihkan dan berada di dunia lain yang tidak terkutuk.

Terjual di bawah kuasa dosa artinya manusia terbelenggu hidup sesuai dengan keinginannya sendiri sehingga selalu meleset atau luncas terhadap kehendak Allah. Dengan terjual di bawah kuasa dosa manusia memiliki kemerdekaan untuk melakukan apapun yang diingininya. Ini sangat membahayakan. Manusia merasa tidak berhutang kepada siapa pun guna melunasinya. Keadaan ini seakan-akan ia memiliki dirinya sendiri, tetapi sebenarnya ia terbelenggu oleh berbagai keinginan yang menjerumuskan jauh dari kehendak Allah. Dengan cara ini Iblis membinasakannya. Tetapi setelah seseorang ditebus oleh darah Tuhan Yesus, maka ia menjadi milik Tuhan. Ia berhutang untuk hidup menurut Roh artinya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak meleset (Yun. hamartia, dosa).4 Dengan menjadi anak tebusan maka segala sesuatu yang ada padanya bukan hartanya sendiri; harta orang lain. Hartanya sendiri akan diberikan setelah bisa mengelola harta orang lain yaitu hartanya Tuhan. Jadi segala sesuatu yang dimiliki sekarang ini harus digunakan untuk maksud-maksud Tuhan. Pertama untuk mengumpulkan harta di surga yaitu membuka mata pengertiannya terhadap kebenaran dan hidup dalam kebenaran.5 Kedua, menggunakan semua potensi yang ada pada orang percaya guna menggenapi rencana Allah yaitu memuridkan orang percaya sampai ke ujung bumi. Hari ini kita mengembangkan semua potensi dan memaksimalkan hanya untuk menopang pergumulan kita menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula dan menolong orang lain agar juga mengalami pemulihan dari Allah.

Kalau kita melakukan banyak usaha demi kesehatan, pemenuhan kebutuhan jasmani dan lain sebagainya dasarnya adalah tanggung jawab untuk mengelola milik Tuhan tersebut. Ini adalah sebuah penatalayanan (stewardship). Penatalayanan artinya bahwa kita mengerjakan semua ini untuk kepentingan Tuhan yang telah membeli kita dengan darah-Nya yang mahal. Usaha keras kita dalam berbagai bidang bukan untuk memenuhi ambisi dan obsesi kita sendiri. Jika hanya demi ambisi dan obsesi pribadi berarti seseorang membangun kerajaannya sendiri. Ia membangun takhtanya sendiri yang namanya “aku ingin”. Orang-orang seperti ini tidak bisa diajak bekerja untuk pelayanan Tuhan, sebab akhirnya mereka akan menyusahkan pekerjaan Tuhan. Kalau ada kontribusinya pun sangat tidak berarti.

1) 1Korintus 6:19-20 ; 2) Lukas 16:12 ; 3) Roma 7:14 ; 4) Roma 8:12 ; 5) Matius 6:19-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.