20 Oktober 2014: Ruang Pertemuan

Kebodohan dan penyesatan yang terjadi di banyak gereja hari ini adalah merasa sudah mengasihi Tuhan hanya karena telah menyatakan dengan bibir melalui syair lagu dan kalimat doa, bahwa dirinya mengasihi Tuhan. Seakan-akan pernyataan bibir tersebut sudah merupakan ekspresi bahwa dirinya telah mengasihi Tuhan. Sebagai akibatnya banyak orang Kristen yang hanya berfantasi mengasihi Tuhan tetapi sebenarnya belum mengasihi Tuhan. Dalam hal ini liturgi kebaktian bisa menjadi panggung sandiwara yang disutradarai oleh sebagian pemimpin-pemimpin gereja yang tidak mengerti kebenaran Injil yang murni. Biasanya mereka menekankan liturgi gereja seakan-akan bisa menjadi persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya mereka berusaha menyusun acara gereja sebaik mungkin yang bisa mengesankan bahwa itulah satu-satunya sarana Tuhan berurusan dengan umat-Nya. Mereka memandang seakan-akan gereja adalah ruang pertemuan satu-satunya dan terpenting umat bisa bersentuhan dengan Tuhan. Sementara pada kenyataannya dikesankan bahwa yang bersentuhan dengan Tuhan secara langsung hanya para pemimpin gereja. Hal ini akan membuka peluang selebar-lebarnya terjadi manipulasi dan pemanfaatan nama Tuhan untuk kepentingan pribadi dan lembaga gereja. Kegiatan gereja seperti itu hanya melanggengkan politik gereja yang sudah dimainkan selama ratusan tahun. Pada kenyataannya jemaat hanya menjadi korban seperti sapi perahan yang digunakan untuk menjalankan roda kegiatan gereja. Sebenarnya ruang pertemuan dengan Tuhan adalah ketika kita menjumpai orang yang “paling hina” yang harus membuat roti kita terpecah dan anggur kita tercurah. Kalau ruangan pertemuan dengan Tuhan di ruang gereja saja, maka orang Kristen menjadi manusia eksklusif yang tidak tersentuh orang-orang yang mewakili Tuhan di bumi ini untuk mendapat uluran tangan kita. Ruangan pertemuan orang Samaria yang baik hati dengan Tuhan adalah di pinggir jalan menuju Yerusalem. Bagi orang kaya yang dikisahkan dalam Lukas 14, perjumpaan dengan Tuhan mestinya di depan rumahnya sendiri ketika Lazarus tergeletak kelaparan. Di sanalah terjadi perjumpaan yang indah dengan Tuhan, tetapi ia menolak menjumpai lawatan Tuhan sehingga ia membinasakan dirinya sendiri. Tidak pernah orang yang tidak memedulikan sesamanya masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.