20. NURANI ILAHI

Melalui korban Tuhan Yesus Kristus, kematian hati nurani manusia yang mengakibatkan manusia tidak mampu mencapai kesucian Tuhan, bisa dibangkitkan atau dipulihkan. Inilah sesungguhnya maksud dan tujuan keselamatan diberikan. Bagi orang percaya yang memiliki kuasa supaya menjadi anak Allah, mereka harus bekerja keras memanfaatkan kuasa tersebut guna mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Yoh. 1:11-13; Flp. 2:12-13). Dengan kuasa itu (exousia) yang diberikan kepada mereka yang menerima Yesus, mereka dimungkinkan memiliki hati nurani Ilahi, artinya sanggup bertindak seperti Allah bertindak. Jika seseorang berhasil mencapainya, maka orang tersebut barulah pantas disebut sebagai anak-anak Allah. Semua ini bisa terjadi oleh karena anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus (Rm. 8:3-4), sehingga Ia menjadi pokok keselamatan kita, artinya Ia memberikan penebusan (membeli kita dari hukum dosa), mengajarkan kebenaran dari apa yang dikerjakan dan yang diajarkan serta penerangan oleh Roh Kudus, memberi teladan dan kemudian memuridkan kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Semua ini merupakan potensi untuk memiliki nurani seperti Dia, yaitu hati nurani Ilahi.

Kalau hati nurani dibentuk atau dibangun dari kebenaran Firman, maka akan menjadi hati nurani Ilahi. Inilah yang menguasai atau mewarnai seluruh neshamah-nya. Dengan demikian barulah seseorang bisa menjadi manusia Allah. Sebaliknya, jika jiwa menyerap filosofi dunia, maka hati nuraninya rusak. Hati nurani yang rusak akan mewarnai seluruh kehidupannya. Hati nurani inilah yang menjadi sosok permanen seseorang atau diri manusia itu. Inilah proses pengkloningan. Masalahnya, apakah seseorang memberi diri dikloning oleh Tuhan menjadi seperti Tuhan atau dikloning oleh dunia dengan segala pengaruhnya sehingga menjadi anak Iblis? Idealnya bagi umat Perjanjian Baru, kita harus memahami apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus, kemudian berusaha untuk melakukan dan meneladani hidup-Nya.

Orang percaya yang bertumbuh dewasa harus mendidik, membentuk atau membangun hati nuraninya dengan Firman Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab. Pembaharuan pikiran merupakan hal mutlak yang harus terjadi dalam kehidupan orang percaya setiap hari. Jika hal ini dilakukan dengan serius, maka hati nuraninya menjadi hati nurani yang Ilahi. Ini sama dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Sampai taraf ini hati nurani seseorang menjadi suara Allah. Dalam satu pernyataannya Paulus berkata: Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1Kor. 2:16). Pikiran Kristus artinya kemampuan untuk mengerti apa yang Bapa kehendaki untuk dilakukan.

Itulah sebabnya kita dikehendaki untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dalam teks aslinya adalah phroneo, yang artinya the mind (Ingg. as the interiorself atau bagian pikiran yang dalam). Kata ini dalam bahasa Inggris juga diterjemahkan attitude, artinya sikap batin atau sikap hati. Hal ini juga menunjuk atau bertalian dengan hati nurani. Sebenarnya phroneo memiliki pengertian yang sejajar dengan suneidesis. Hati nurani Ilahi inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan “mata”. Tuhan tegaskan bahwa mata adalah pelita tubuh. Jika mata baik, teranglah seluruh tubuh; jika mata jahat, gelaplah seluruh tubuhnya. Jadi jika terang yang ada pada seseorang gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat. 6:22-23). Dari pernyataan Tuhan Yesus ini jelaslah bahwa kalau hati nurani seseorang sudah tidak diisi dengan kebenaran Firman Tuhan, maka gelaplah kehidupan orang tersebut. Gelap di sini artinya tidak mampu mengerti pikiran Tuhan (yang baik, yang berkenan dan yang sempurna). Ini juga berarti tidak melakukan kehendak Bapa. Dalam Injil Matius 6:19-24, orang yang materialistis pasti menjadi buta (Luk. 16:11). Kalimat harta yang sesungguhnya dalam teks aslinya adalah alitheia, yang artinya kebenaran. Buta di sini maksudnya adalah tidak mampu mengerti kebenaran Allah. Orang yang bersikap mencintai dunia tidak akan dapat mengerti kebenaran, artinya hati nuraninya pasti gelap.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.