20 November 2014: Saling Menikmati

Kita tidak boleh menuntut bukti-bukti lahiriah dan pengalaman fisik untuk memercayai keberadaan Tuhan. Tuhan sendiri mengajarkan bahwa kita harus percaya walau tidak melihat (Yoh. 20:29). Bila Tuhan menunjukkan bahwa ada orang yang percaya walau tidak melihat maka Tuhan tidak menjamin bahwa Tuhan akan menyatakan diri secara fisik supaya manusia percaya.Dalam hal ini iman bukanlah perasaan yang terbangkitkan oleh tanda lahiriah, seperti misalnya waktu kita berdoa merasa merinding, melihat bayangan putih, ada cahaya dan lain sebagainya. Walaupun tidak ada tanda lahiriah kita tetap percaya. Perasaan tidak boleh menjadi berhala jiwa sehingga kita tidak mengalami Tuhan secara benar. Pengalaman dengan Tuhan bukanlah pengalaman emosi semata-mata. Kita harus belajar teduh dan meletakkan emosi pada proporsinya. Namun demikian kita juga tidak boleh membunuh perasaan kita. Tuhan berkata “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi” (Mat. 22:37-40). Kita harus belajar apakah kita sedang menikmati Tuhan atau gelora perasaan kita sendiri. Kita tidak boleh terhanyut oleh “onani rohani” (kepuasan yang dialami tanpa partner). Tuhan adalah Tuhan yang riil, dapat dinikmati oleh kita dan kita bisa saling menikmati sebab Tuhan pun menikmati kita (Maz. 34:9). Dalam hal ini dibutuhkan latihan terus menerus.

Harus kita pahami bahwa jarak antara kita dengan Tuhan hanyalah sejauh iman kita. Bila kita memiliki iman maka pasti ada perjumpaan antara kita dengan Tuhan. Yang penting di sini adalah percaya saja. Jangan merasa Tuhan hadir hanya karena merasa merinding, sendu, meledak emosi dan lain sebagainya. Itu pengalaman emosi yang tidak dapat menjadi dasar pengalaman kita dengan Tuhan. Perasaan mudah berubah atau bersifat temporal, situasional (artinya tergantung situasi) dan tidak permanen. Kita harus melatih berjalan dengan iman bukan dengan penglihatan (2Kor. 5:7). Kita harus berani percaya walau kita tidak merasakan secara fisik. Jangan merasa kurang iman hanya karena tidak memiliki pengalaman yang spektakuler dengan Tuhan, seperti kesaksian banyak orang. Justru ketika kita tidak memiliki pengalaman yang spektakuler dengan Tuhan kita berani percaya maka itulah suatu hal yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita harus ingat pernyataan Firman Tuhan: “berbahagilah yang percaya walau tidak melihat”. Membiasakan diri percaya dengan cara demikian akan mendewasakan iman kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.