20. MELUKAI HATI TUHAN

JIKA SESEORANG MENDENGAR kalimat “hidup tidak bercacat dan tidak bercela”, rasanya sangat berat dan sulit dicapai. Kemudian banyak orang bersikap apatis terhadap hal tersebut karena berpikir tidak mungkin dapat mencapainya. Benarkah bahwa manusia tidak mungkin bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela? Sesungguhnya kalau seseorang berpikir bahwa tidak mungkin seseorang bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau menjadi sempurna, pasti karena pengaruh cara berpikir berbagai agama dan keyakinan. Di dalam berbagai agama dan keyakinan, kesan yang ditimbulkan sangat kuat bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan tidak bisa sempurna. Hal inilah yang mentolerir seseorang berbuat suatu kesalahan. Sikap ini sebenarnya merupakan sikap “permisif” (sikap serba memperbolehkan atau kecenderungan mengijinkan segala tindakan boleh dilakukan). Ketika Allah dipromosikan sebagai Allah yang Maha Pengampun, dikesankan bahwa manusia selalu bisa bersalah, dan Allah pasti mengampuni. Pernyataan ini bukan berarti membantah fakta kegagalan yang bisa dialami oleh orang percaya atau adanya pengampunan dari Tuhan. Tetapi hendaknya orang percaya tidak memberi peluang berbuat dosa dengan pemikiran bahwa Tuhan siap memberi pengampunan. Meskipun Tuhan selalu siap memberi pengampunan, sejatinya orang percaya menghindari tindakan bersalah yang dapat melukai hati Tuhan.

Sikap permisif juga bisa terbangun berhubung fakta orang-orang saleh Perjanjian Lama yang melakukan pelanggaran dan memiliki kelemahan-kelemahan. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus dan tokoh-tokoh lain memiliki lembaran hitam dalam kehidupan mereka. Belum lagi tokoh Perjanjian Baru seperti Petrus ternyata juga melakukan suatu kesalahan yang dikategorikan fatal. Kalau mereka bisa gagal, jatuh dalam dosa, mengapa kita tidak? Begitulah pikiran banyak orang Kristen. Pikiran yang sesat ini tidak boleh bertakhta di dalam pikiran orang percaya. Berkenaan dengan hal ini harus diketahui bahwa tokoh-tokoh Perjanjian Lama adalah orang-orang yang belum mendengar Injil dan belum menerima materai Roh Kudus. Mereka tidak dapat dituntut untuk sempurna. Memperhatikan kehidupan tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama, kita harus mengerti bahwa walaupun mereka tidak sempurna-mereka memiliki kegagalan-kegagalan bahkan perbuatan yang memalukan- tetapi ada kelebihan-kelebihan mereka yang dapat menjadi pelajaran rohani bagi kita. Adapun Petrus dan murid-murid yang lain ketika berbuat kesalahan, karena mereka belum menerima baptisan Roh Kudus. Bahkan sekalipun menerima baptisan Roh Kudus, mereka juga harus melalui proses bertahap untuk bisa menjadi sempurna.

Penyebab seseorang tidak bergairah untuk mencapai hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela juga disebabkan karena memandang gaya hidup seperti ini tidak menguntungkan. Pertanyaan yang bisa muncul dalam pikiran banyak orang adalah apakah yang dapat diberikan oleh kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela? Malahan timbul kecurigaan, jangan-jangan hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela membuat hidup tidak bahagia. Gaya hidup yang dianggap tidak wajar bagi kehidupan masyarakat pada umumnya. Di kalangan

tertentu orang yang berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela dianggap fanatik, tidak bisa bergaul dengan masyarakat lain, aneh dan membuat orang lain tidak nyaman. Seharusnya hal ini tidak boleh menjadi alasan, sebab dunia memang memiliki standar yang berbeda. Orang percaya tidak boleh serupa dengan dunia ini. Kalau orang percaya harus tersisih dan disingkirkan oleh dunia dan dianggap sebagai ancaman, hal itu harus dianggap sebagai kewajaran. Kalau pada zaman gereja mula-mula orang percaya teraniaya oleh orang-orang yang menolak Injil, tetapi pada zaman ini orang percaya yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela akan teraniaya oleh orang-orang baik yang tidak mau meningkatkan hidup pada taraf kesucian seperti Tuhan. Banyak orang puas dengan standar hidup sebagai orang baik, menolak untuk sempurna.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.